2024 Tidak Perlu Dirisaukan Sekarang

Ilustrasi Pilpres 2024/Net
Ilustrasi Pilpres 2024/Net

PEMILU 2024 sebetulnya masih jauh. Masih tiga tahun lagi. Ini baru tahun kedua berlalu dan kaki kita akan menginjak tahun ketiga administrasi dan pemerintahan periode ini. Namun, aroma dan suasana sepertinya sudah bertambah dekat saja.

Kita lihat atmosfir nasional. Asap dari api sudah tampak. Media dan diskusi kecil dan besar sudah ramai dengan prediksi dan perkawinan calon. Jika partai A dan partai B berkoalisi maka akan muncul calon D. Jika partai C dan partai E berkoalisi akan muncul calon F.

Beberapa terasa sedang bersiap-siap menghangatkan tubuh, mengeringkan baju, menyiapkan dasi, menyisir rambut, bersiap-siap untuk tampil lebih meyakinkan lagi. Semua masih halal dan baik.

Setiap gawe Pemilu penting, walaupun masih tiga tahun lagi. Itu juga prasarat dari demokrasi.

Tetapi jika suasana sudah jauh-jauh hari dikondisikan dalam suasana siap-siap Pemilu, maka kapan kita serius mengerjakan yang sekarang?

Politik dalam demokrasi memang vital, tetapi kehidupan ekonomi, pendidikan, sosial, dan kebutuhan sehari-hari lebih mendesak saat ini. Politik dalam kenyataannya menjadi panglima selama masa Reformasi ini, namun jangan sampai itu membawa kita semua mengaitkan semua gawe dan tanda-tanda dengan hal-hal politis.

Politik mengatur pemerintahan, kehidupan sosial, dan keberlangsungan demokrasi, tetapi tidak berarti semua harus berhubungan dengan sikap politis. Rencana program pemerintahan saat ini, dan rencana kita masing-masing perlu kita jalankan sekarang.

Bersiap untuk masa depan itu manusiawi, tetapi masa saat ini adalah kenyataan, begitu diingatkan oleh banyak filosof Romawi kuno seperti Marcus Aerelius dan Lucius Seneca. Saat ini adalah kenyataan yang kita hadapi, perlu kita pusatkan perhatian. Jika kita terlalu khawatir akan masa depan, bisa jadi akan kehilangan masa sekarang.

Masa sekarang adalah dunia yang sebenarnya, masa depan belum tentu terjadi. Apakah akan bangkit raksasa, monster, atau hantu, kita tidak bisa memperkirakan dengan jelas. Bisa jadi monster akan muncul di tahun 2024, atau bisa juga tidak ada monster sama sekali.

Itu baru bayangan, baru perkiraan, belum menjadi kenyataan. Masa depan tidak perlu menakutkan kita. Maka, saat ini banyak yang lebih mendesak dan nyata.

Yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana dunia pasca-covid 19 ini akan berjalan. Bisakah kita membangkitkan ekonomi di tingkat micro dan macro? Bagaimana pendidikan akan dijalankan dengan luring atau daring?

Para siswa dan mahasiswa sudah tidak sabar menunggu koordinasi kita, dari pemerintah daerah, Kementrian Pendidikan, Kementrian Agama, Satgas Covid, para dokter, dan para cerdik cendikia. Bagaimana memikirkan mereka yang terimbas covid ini? Berapa jumlah korban dan bagaimana menghibur mereka yang ditinggalkan?

Kita memikirkan itu dalam skala nasional, lokal, bahkan dalam tingkatan psikologi individu. Namun, semua itu hendaknya tidak perlu dikaitkan dengan sikap politis, apalagi jika dengan Pemilu 2024. Tindakan para petugas, sikap pemerintah lokal, kondisi universitas, sekolah, dan para guru bagaimana?

Semua ini, sekali lagi, tanpa harus dikaitkan dengan sikap politik 2024. Kita bisa netral. Kita pandang semua dengan jernih tanpa harus dihubungkan paksa dengan prediksi dan kepentingan politik, yang kadangkala tidak ada hubungannya dengan kita sama sekali.

Para netizen kita rajin berdebat, berkomentar, saling memojokkan, saling mencaci satu dan yang lainnya karena persoalan politik. Rasanya perlu adanya pendidikan politik yang lebih baik.

Dua ribu lima ratus tahun yang lalu, Plato dan juga Aristoteles sudah mengingatkan kita bahayanya praktik demokrasi jika populisme menjadi satu-satunya ukuran. Efek samping dari demokrasi adalah semua sama dimata balot.

Satu orang berhak mencoblos satu suara, apakah pejabat atau rakyat, apakah professor atau mahasiswa, apakah kyai atau santri.

Ini adalah keadilan, sebagaimana juga disinggung oleh Plato. Namun, akibat dari pengejaran popularitas terasa banyak tindakan-tindakan kurang layak dan tidak wajar dilakukan. Namun, semua wajar saja, jika tidak melanggar hukum yang berlaku.

Disamping kita sibuk dengan pekerjaan masing-masing di kantor, sawah, toko, terminal, atau dalam perjalanan, kita bisa sambi menengok masa saat ini. Boleh bertanya, yang menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan, karena itulah kehidupan demokrasi modern seharusnya.

Hal-hal utama perlu dilihat perkembangannya: Bagaimana pembangunan infrastruktur yang dijanjikan berjalan? Bagaimana subsidi pertanian dilaksanakan? Bagaimana kesejahteraan keluarga difungsikan? Bagaimana Kartu Indonesia pintar dan sehat dijalankan? Sejauh mana dana desa dilakukan dan pengaruhnya sebesar apa dalam ekonomi dan sosial di desa?

Pemilu masih tiga tahun lagi, masih banyak yang bisa dikerjakan. Rencana individu atau program kerja kantor masih berjalan. Kita belum selesei. Masa depan masih belum menjadi kenyataan.

Al Makin

Penulis adalah Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta