Bahas Pemilu 2024, Dua Tokoh Pangandaran Tidak Ingin Ada Istilah Partai Penguasa

Ahmad Irfan Alawi (kiri) dan Ino Darsono/RMOLJabar
Ahmad Irfan Alawi (kiri) dan Ino Darsono/RMOLJabar

Bahasan pembicaraan yang dilakukan dalam pertemuan dua tokoh Kabupaten Pangandaran, Ahmad Irfan Alawi dan Ino Darsono pasca dua tahun tidak berkomunikasi secara intensif, meluas dari soal menyamakan persepsi hingga langkah politik jelang Pemilu 2024.


Diketahui, Ahmad Irfan Alawi merupakan anggota DPRD Jabar periode 2014-2019, sementara Ino Darsono adalah mantan calon bupati sekaligus eks Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Amanat Nasional (DPD PAN) Pangandaran.

Ahmad Irfan Alawi menegaskan, komunikasi yang dirinya lakukan bersama Ino Darsono adalah ingin menghidupkan kebiasaan lama saat Pangandaran belum mekar dari Kabupaten Ciamis yakni proses dinamisasi dan saling berbagi peran dalam melakukan kontrol.

Selain itu, mantan anggota DPRD Jabar tersebut memaparkan, pembicaraannya tidak hanya berhenti di urusan proses dinamisasi dan proses kontrol di daerah secara general saja.

"Ya sesama politisi, bahasan melebar kemana-mana, tapi pikirannya yang penting bagaimana ingin membuat wacana yang sama, membangun Pangandaran ke depan," terang Ahmad Irfan kepada Kantor Berita RMOLJabar, Rabu (6/7).

Proses dinamisasi dan kontrol yang diinginkan, ucap Ahmad Irfan, diharapkan bisa timbul ekses terhadap tidak lagi terkotak-kotaknya kondisi perpolitikan di Kabupaten Pangandaran.

"Jangan lagi mana partai penguasa dan partai lain. Kita ingin kesetaraan bisa dibangun karena antara partai pemenang dan yang lain frame-nya pasti sama," paparnya.

Frame yang sama, tegas Ahmad Irfan, adalah bagaimana membangun Pangandaran. Dari komunikasi yang dibangun, tambah ia, tinggal berbagi perannya ini seperti apa.

"H Ino pastinya punya kesejarahan itu lah. Hari ini kita rasakan ada ketimpangan yang perlu kita semua duduk bersama mencari solusi dan tidak saling menyalahkan." pungkasnya.