Banyak Persoalan Di Jabar, Ganti Nama Provinsi Bukan Prioritas

Budayawan Sunda, Wawan Gunawan/RMOLJabar
Budayawan Sunda, Wawan Gunawan/RMOLJabar

Wacana pergantian nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda, Tatar Sunda, maupun Pasundan kembali muncul ke permukaan. Namun, hal tersebut dinilai tak akan berpengaruh banyak ketika permasalahan yang terjadi saat ini belum terselesaikan.


Budayawan Sunda, Wawan Gunawan menjelaskan, seharusnya yang lebih diprioritaskan untuk kondisi saat ini adalah permasalahan substansial bukan perihal pergantian nama provinsi. Sebab, tantangan masyarakat Sunda sekarang ini adalah kesejahteraan.

"Sunda yang notabene Jabar, mempunyai banyak problem seperti problem intoleransi, pemeretaan pendidikan, rawan gizi buruk, Peraturan Daerah (Perda) yang tidak konstitusional," jelasnya, Rabu (14/10).

Wacana Sunda tersebut ada tiga menurut Ajip Rosidi, Sunda Bihari (jaman dulu), Kamari (kemarin), dan Kiwari (saat ini). Namun menurut Wawan, jika terdapat energitas lebih baik mengatasi problem substansial yang terjadi di Jabar.

"Sunda Bihari dan Kamari dijadikan referensi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang saat ini terjadi di Sunda Kiwari," imbuhnya.

Ketika pergantian nama dilakukan, kata dia, maka harus diiringi dengan hitungan cost and benefit secara sosial dan kultural, akan signifikan atau tidak. Untuk itu, Ia menilai lebih baik mengubah perilaku pejabat serta memangkas birokrasi.

"Karena itu merupakan nilai-nilai budaya Sunda yaitu Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh," tuturnya.

Ia secara pribadi tidak ingin terjebak dalam simbolisme perubahan nama. Sebab, yang penting adalah substansi kebudayaan terjalankan dengan baik dan menunjukkan indentitas orang Sunda yakni transparan serta negosiatif.