Beduk, Petasan, dan Uang Lebaran (Kesalehan di Tanah Betawi)

Ilustrasi uang Lebaran/Net
Ilustrasi uang Lebaran/Net

PENGHUJUNG Ramadan, selepas Magrib, tabuh suara beduk mulai terdengar, mengiringi lantunan takbir, penanda penutup berakhirnya bulan Ramadan.

Irama beduk yang disertai lantunan takbir akan terhenti ketika imam dan khatib Id menginjakan kakinya di atas sajadah.

Berbeda dengan salat Jumat, salat Id diawali dengan salat dua rakaat dilanjutkan dengan kutbah. Usai salat, petasan menggantikan tabuhan beduk, tidak lain sebagai ekspresi mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaan.

Suasana pun berganti. Pelepas dahaga, haru diiringi isak tangis, itulah akhir ungkapan kebahagiaan, merayakan kemenangan setelah satu bulan lamanya berjuang meningkatkan kualitas ibadah. 

Canda tawa dengan saling bersilaturahmi, bersalaman, berbagi dengan handai taulan, uang Lebaran dengan macam pecahan ambil bagian pada perayaan Hari Raya Idulfitri.

Perayaan yang dapat dirasakan oleh semua kalangan tanpa mengenal strata ekonomi, usia, kedudukan, pangkat. Semua hanyut dalam suasana penuh kebahagiaan.

Terlepas dari mana bermula, beduk, petasan, dan uang Lebaran, saya tidak mengetahui secara pasti, apakah tradisi yang sama juga dilakukan di daerah lain–meskipun dengan banyaknya corak beduk berbeda yang menjadi kekhasan tersendiri setiap daerah di Indonesia.

Namun, tradisi beduk, petasan, dan uang Lebaran di tanah Betawi menjadi tradisi turun-temurun, tradisi tahunan, bahkan tradisi yang mengakar.

 Zaman boleh dengan berbagai perubahan bahkan mencoba untuk mengintervensi tradisi yang sudah berlangsung cukup lama ini. Inilah kesalehan di tanah Betawi.

Semua tradisi memang memiliki cerita, memiliki sejarahnya sendiri, Yahya (In time) menceritakan tradisi tabuh beduk merupakan tradisi tentara China yang menandakan akan adanya peperangan, penanda menyemangati perlawanan dalam pertempuran. 

Berbeda dengan petasan, meskipun dari asal yang sama, di negeri Tionghoa, petasan menjadi tradisi untuk merayakan hari raya Imlek, hari pergantian tahun bagi masyarakat Cina.

Begitupun dengan uang Lebaran, masih dalam satu sumber, berasal dari asal yang sama dan dikenal dengan angpau atau hadiah di setiap perayaan Imlek.

Tradisi negeri asal yang kemudian terakulturasikan dengan nuansa keislaman, kebetawian di tanah Betawi. 

Beduk tidak saja berfungsi sebagai ornamen, tetapi menjadi alat penghubung (komunikasi) ibadah umat Islam ketika waktu salat sudah masuk (sebelum tersedia pengeras suara) secara berantai dan terdengar dari kampung satu ke kampung lainnya. Begitupun di akhir Ramadan, beduk dengan takbir keliling kampung menyempurnakan hari-hari akhir Ramadan.

Semarak Idulfitri juga terasa menusuk jantung, memecahkan telingga, namun melengkapi kebahagiaan. Dentuman petasan seakan mengabarkan berita antara satu kampung dengan kampung lainnya. 

Sebelum bertemu tangan, petasan menyampaikan penyentara awal, memberi pesan untuk saling bersilaturahmi dan memaafkan antarkampung. Sahutan petasan renteng setiap kampung cermin keterbukaan di tanah Betawi.

Masyarakat Betawi membuka ruang bagi siapa pun dapat mengunjungi satu kampung dengan kampung lainnya selepas salat Id.

Ketupat dengan sayur godok, tape dengan uli, dodol dengan wajik, dan baju baru dengan uang Lebaran menjadi pemandangan wajib di setiap hari Lebaran masyarakat Betawi. Tertata rapih dan menjadi hidangan yang siap dinikmati tamu. 

Paripurna kesalehan di tanah Betawi, uang Lebaran atau persen atau THR bagi yang datang menjadi pengikat yang kuat untuk generasi Betawi dimasa selanjutnya. Baju baru dan uang baru tanda kembalinya pada kebaruan secara lahir dan batin. Dengan mengucapkan mohon maaf, kita kembali ke fitrahnya, selamat berlebaran.

Usni Hasanudin

Penulis adalah Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta