Belum Lurus Kencing

Herman Batin Mangku/Istimewa
Herman Batin Mangku/Istimewa

PASCA disahkannya UU Omnibus Law Cipta Kerja, saya sering tekanjat (kaget) menyimak reaksi generasi melenial. Mereka yang katanya generasi cuek korban gatget ternyata bangkit kompak meninju ketidakadilan.

Ribuan mahasiswa seluruh penjuru Lampung tak peduli dengan pandemi Covid-19, larangan orangtua, dan Tim Gugus. Mereka berkerumun ribuan seakan UU Omnibus Law lebih berbahaya dari wabah virus corona. 

Pelajar SMK, STM, SMA yang masih dalam masa pembelajaran daring (online) sejak tujuh bulan lalu spontan memakai seragam putih-birunya bergabung dengan kakak-kakak mahasiswanya.

Aksi hari pertama, Rabu (7/10/2020), di DPRD Lampung, mereka merasa dicuekin para wakil rakyat. Para politikus tak bergeming dari kursi empuk berpendingin di ruangan-ruangan mereka. Ujungnya: chaos.

Gelombang aksi terus bergulir setiap hari dari mahasiswa, masyarakat, dan buruh. Ada yang bikin kaget lagi, saat baru menuju aksi buruh di Tugu Gajah, Kamis (8/10/2020), para mahasiswa sudah dibubarkan kepolisian di tengah jalan.

Selasa (13/10/2020), HMI Bandarlampung hanya dapat empat tanda tangan dari 85 anggota DPRD Lampung yang setuju pembatalan UU Omnibus Law. Ada 8 wakil rakyat yang sudah mundur karena "tergoda" Pilkada Serentak 2020.

Sorenya, PMII Provinsi Lampung menyusul aksi ke DPRD Lampung. Para anak muda itu bersikeras ingin berdialog dan menuntut sikap wakil rakyat agar prorakyat. Sekitar pukul 20.00 WIB, mereka baru bisa dilayani empat legislator yang terhormat.

Mungkin ini gambaran puncak sikap wakil rakyat terhadap aksi mahasiswa menolak UU Omnibus Law sekaligus menguak jurang generasi '98 yang gemilang dengan aksi reformasinya dengan generasi melenial '20 yang tengah aksi tolak "UU Sapu Jagat".

Saat dialog tersebut, seorang wakil rakyat, Ketua Komisi I Yozi Rizal yang pernah juga turun ke jalan saat masih mahasiswa, mengatakan kepada para aktivis PMII: "Mungkin Anda belum lurus kencing, saya sudah melakoni apa yang Anda lakukan."

Para aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lampung tekanjat, mereka tak terima ucapan bernada meremehkan terhadap diri mereka yang tengah berjuang melawan keinginan keras kekuasaan. Para mahasiswa merasa dilecehkan seorang wakil rakyat. 

Dialog dead lock, bubar, aktivis PMII memilih langsung melaporkan politikus yang bukan "kaleng-kaleng" itu ke Polda Lampung malam itu juga. Politikus senior yang sudah banyak makan asam-garam parlemen jalanan dan membela ketidakadilan.

Yozi Rizal pernah bergabung dalam Tegar (embrio LBH Rakyat/YLBHR), Komite Advokasi Gerakan Rakyat, Tim Advokasi Korban Tragedi UBL Berdarah 28 September 1999, PRD, ormas pemuda, Gerakan Pemuda Kerakyatan/GPK, dan LBHR.

Memang tak bisa mewakili seluruh pandangan wakil rakyat, kata-kata yang masih kontroversial tersebut setidaknya memberikan gambaran apa yang ada di benak seorang wakil rakyat terhadap anak muda yang sedang aksi membela rakyat, kaum buruh, saat ini.

Para mahasiswa, apalagi pelajar jika ditanya detail klaster-klaster Omnibus Law yang menjadi keberatannya tak semuanya bisa menjelaskan ces pleng. Jangankan mereka, para wakil rakyat saja belum tentu semuanya paham. Wong, drafnya saja masih "kucing-kucingan".

Namun, para mahasiswa, apalagi pelajar dari setiap.zamannya, selalu masih memiliki hati bersih. Pelajaran berbagai konseptual bernegara yang mereka peroleh belum terkontaminasi oleh kepentingan pribadi, kelompok, partai, apalagi para komprador.

Mereka benteng terakhir kedaulatan dari generasi ke generasi, masa ke masa seperti kalimat pepatah ini: "Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya".

Barangkali, dengan segudang jam terbangnya sebagai aktivis dan puncaknya sebagai legislator sekian periode, kencingnya sang wakil rakyat kini sudah lurus, setidaknya menurut pendapat Yozi Rizal.

Bagaimana dengan wakil rakyat yang lainnya? Apa kencingnya sudah bisa lepas tangan?

People do not care how much you know until they know how much you care / Orang tidak peduli seberapa banyak Anda tahu sampai mereka tahu seberapa besar Anda peduli. (John C. Maxwell)