Beras BPNT Dipotong Dua Kilo?

RMOLJabar. Sejumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Citamiang, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta, kecewa dengan takaran beras yang berasal dari program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).


Pasalnya, dalam ketentuan setiap keluarga penerima manfaat mendapatkan beras sebanyak 10 kilogram. Namun, fakta di lapangan hanya ada delapan kilogram.

Ujang Nasrudin (48 tahun), salah seorang penerima manfaat, mengatakan, pada hari ini ada pembagian beras dari program BPNT. Warga yang memegang kartu keluarga sejahtera, lalu mengambil beras tersebut di kantor desa. Akan tetapi, ketika beras itu diangkat, beratnya tidak sesuai dengan ketentuan.

"Kami aneh saja, ketika diangkat untuk dibawa pulang, karungnya terasa lebih ringan," ujar Ujang, kepada sejumlah media, Rabu (20/2).

Karena penasaran, lanjut Ujang, ia memberanikan diri untuk menimbang lagi beras yang sudah dikemas dalam karung tersebut. Ternyata, hasilnya memang kurang. Seharusnya, takaran beras itu 10 kilogram, setelah ditimbang ulang hanya delapan kilogram.

Dengan kondisi ini, Ujang bersama empat warga lainnya, kembali ke balai desa. Tujuannya, untuk mengembalikan beras tersebut. Di kantor desa itu, ada pihak dari pemerintahan desa, dan juga aparat kepolisian.

Bahkan, sambung Ujang, penimbangan ulang juga dilakukan dihadapan para petugas tersebut. Dengan takaran yang kurang ini, warga sangat kecewa. Sebab, beras bantuan pemerintah ini terindikasi di korupsi. "Cuma kami tak tahu siapa yang nakalnya," ujar Ujang.

Sementara itu, Kaur Kesra Desa Citamiang, Iwan Permana, mengaku, pihaknya tak mengetahui soal takaran beras yang dibagikan saat BPNT itu. Mengingat, berasnya sudah dikemas dalam kantong karung. "Kami juga kecolongan dengan adanya kasus ini," ujarnya.

Iwan menyebutkan, di desanya ada 70 KK yang tercatat sebagai perima BPNT. Dari 70 KK itu, baru lima KK yang sudah mengambil berasnya. Sisanya, 65 KK lagi belum mengambilnya.

Adapun beras ini, lanjut Iwan, dikirim dari suplayer yang menjadi rekanan pengelola BPNT dari wilayah Subang. Yaitu, berasal dari pabrik beras (PB) Ikah BBR Subang. "Kalau kualitas berasnya bagus. Cuma takarannya saja yang kurang," jelas Iwan.

Terpisah, Kapolsek Maniis AKP Agus Wahyudin, mengatakan, pihak kepolisian sudah menerima pengaduan dari masyarakat. Soal kurangnya takaran beras ini. Kasus ini, sudah dilaporkan ke satgas bantuan sosial di Polres Purwakarta.

Hingga naskah ini ditulis, RMOLJabar belum mendapatkan konfirmasi dari Pendamping PKH di wilayah tersebut. [gan]