Berperan Aktif Dalam Penerapan Prokes Dan Penanganan Covid-19, UTama Raih Penghargaan Dari Pemkot Bandung

Rektor Universitas Widyatama (UTama) Bandung, Prof. Obsatar Sinaga/Net
Rektor Universitas Widyatama (UTama) Bandung, Prof. Obsatar Sinaga/Net

Sebagai salah satu kampus ternama di Jawa Barat, Universitas Widyatama (UTama) Bandung kerap mendapatkan berbagai penghargaan. Terbaru, UTama menerima penghargaan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung.


Penghargaan diberikan sebagai apresiasi karena UTama menjadi salah satu lembaga yang berperan aktif mewujudkan kondusifitas di Kota Bandung, termasuk membantu penanganan, pencegahan serta pengendalian Covid-19.

Menanggapi penghargaan yang diberikan, Rektor UTama, Prof. Obsatar Sinaga mengaku terkejut. Pasalnya di tengah pandemi Covid-19, menjaga prokotok kesehatan merupakan kegiatan yang biasa dilakukan di kampusnya.

"Sebenarnya kita tidak menyangka Widyatama masuk penilaian tim wali kota dalam menjaga protokol kesehatan. Yang kita lakukan sebagai hal biasa dan wajar, mengikuti aturan protokol kesehatan saja," kata Prof. Obi, sapaan akrabnya, Selasa (2/3).

Ia mengungkapkan, sejumlah protokol kesehatan yang biasa dilakukan di kampusnya, yaitu setiap tamu, dosen dan karyawan ataupun bukan ketika memasuki lingkungan kampus harus diperiksa suhu tubuhnya, kemudian dikasih tanda. 

"Bagi staf karyawan yang pergi ke luar kota kita lakukan rapid tes atau swab. Apabila terdeteksi di suatu lingkungan pejabat kami ada yang terkena Covid-19, kami tes sampai mereka negatif baru mereka boleh masuk. Selama ini yang dilakukan biasa saja sesuai Prokes. Termasuk saat meeting jarak 1,5 meter dan dibatasi jumlahnya," kata Prof. Obi.

Lebih jauh Prof. Obi menjelaskan, di lingkungan kampusnya yang memiliki luas sekira lima hektar, setiap seminggu sekali selalu dilakukan penyemprotan disinfektan. Terutama di tempat yang baru digunakan.

Hal tersebut, terangnya, dilakukan tim khusus dari pihak ketiga yang melakukan protokol kesehatan, terutama untuk wilayah kerja di UTama. Bahkan dalam aktivitas sehari-hari juga menerapkan pembatasan jumlah dosen dan karyawan yang datang ke kampus.

"Kami memiliki karyawan cukup banyak, untuk dosen ada sekitar 270-an. Salah satunya melakukan WFH atau bekerja dari rumah. Dalam satu ruang kerja biasa ada  tujuh orang kini hanya dua orang digilir, dalam satu Minggu mereka bekerja dua hari," ujarnya.

"Sedangkan apabila ada praktikum di kampus jumlah mahasiswa dibatasi setengah atau sepertiganya dari kapasitas ruangan yang digunakan. Jendela di setiap ruangan juga harus dibuka agar sirkulasi udaranya lancar," sambungnya.

Dalam pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), terang Prof. Obi, UTama juga melakukan penyemprotan disinfektan di lingkungan sekitar kampus termasuk pemberian ribuan masker bagi warga di Kelurahan Sukapada, Kecamatan Cibeunying Kidul.

Selain itu, para dosen juga melakukan PkM dengan memberikan pelatihan kepada pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) agar tetap bisa  berjalan usahanya dalam kondisi pandemi yang hampir berjalan satu tahun.

Sementara terkait vaksinasi Covid-19 untuk para dosen non-tendik (tenaga kependidikan) dan karyawan, ujar Prof. Obi, UTama telah mengajukan kepada pemerintah melalui Satgas Covid-19 dan siap melakukan suntik vaksin mandiri.

"Tenaga pengajar dan tenaga non-teknik kami siap divaksin. Tapi kalau pun misalnya pemerintah melakukan gratis dan tidak semua karyawan kami terpenuhi, maka untuk vaksin berbayar kita siap," pungkasnya.

Selain UTama, terdapat 53 lembaga lainnya yang juga menerima penghargaan dari Pemkot Bandung. Sementara untuk kalangan kampus selain UTama, penghargaan serupa juga diraih Universitas Langlangbuana dan Universitas Komputer Indonesia.