Buka Wahana Riset, Unpad Manfaatkan 2 Hektar Lahan Jadi Kebun Buah

Kebun buah yang ditanami Jeruk Siam oleh Fapet Unpad/Net
Kebun buah yang ditanami Jeruk Siam oleh Fapet Unpad/Net

Lahan sekitar 2 hektar dimanfaatkan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Fapet Unpad) untuk mengembangkan kebun buah-buahan. Berlokasi di lahan penelitian Ciparanje, Kampus Jatinangor, beragam jenis buah-buahan, mulai dari jeruk, kesemek, jambu deli madu, dan lain-lain ditanam Fapet Unpad.


Pengembangan kebun buah itu dimotori sejumlah dosen Faperta, di antaranya Ir. Danar Dono, Yusup Hidayat PhD, dan Rahmat Budiarto sejak tiga tahun lalu. Tidak sekadar sebagai lokasi budi daya, kebun tersebut merupakan wahana untuk melakukan riset dan praktikum mahasiswa.

Danar menjelaskan, pengembangan kebun buah-buahan itu dilakukan untuk memanfaatkan sejumlah lahan Unpad sehingga menjadi optimal dan bermanfaat bagi kesejahteraan warga Unpad.

"Kita lihat banyak lahan Unpad yang belum digunakan optimal. Di sisi lain, kita berupaya mendukung riset dan pembelajaran untuk praktikum mahasiswa, karena selama ini kita sempat praktikum ke tempat lain,” jelasnya.

Dari inisiasi itu, Danar dan peneliti dari Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Faperta Unpad kemudian menanam aneka bibit buah-buahan. Dua jenis bibit buah yang ditanam adalah jeruk siam dan jeruk dekopon.

Yusup menjelaskan, pemilihan buah jeruk sebagai salah satu komoditas yang ditanam di kebun itu didasarkan atas hasil observasi lapangan yang dilakukannya. Sebelumnya, Yusup dan kelompok KKN-PPM Integratif Unpad bersama sejumlah petani melakukan kunjungan ke petani jeruk di Karangpawitan, Garut.

Melihat upaya petani Garut yang berhasil membudidayakan jeruk siam dan dekopon kemudian mendorong Yusup untuk menanam bibit serupa di kampus Unpad. Hal ini didasarkan adanya kesamaan karakteristik geografis antara lahan di Garut dengan lahan di kampus  Jatinangor.

“Secara geografis, ketinggian di Garut hampir sama dengan Jatinangor. Kita coba di sini, hasilnya di luar ekspektasi kita. Jeruk yang dihasilkan bagus, rasanya manis, sehingga memang layak dikonsumsi,” tutur Yusup seperti dimuat laman Unpad, Selasa (16/8).

Diar menambahkan, pemilihan jeruk siam sebagai komoditas yang dibudidayakan dipandang tepat. Menurutnya, jeruk siam merupakan komoditas yang dapat beradaptasi dengan kondisi lahan, paling mudah dipasarkan di Indonesia, memiliki rasa yang manis, dan memiliki umur produksi yang cepat.

“Jeruk siam bisa panen pertama sekitar dua tahun. Berbeda dengan jeruk keprok yang memerlukan waktu panen pertama kali hingga 4- 5 tahun,” kata dosen yang meneliti tentang jeruk tersebut.