Bukan Politik Praktis, PWNU Jabar Pastikan Kunjungan Golkar Hanya Minta Doa

Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, Muhammad Dawam mengatakan bahwa kedatangan Golkar Jabar ke PWNU Jabar bukanlah ajang politik praktis. Kedatangan Golkar bertujuan untuk silaturahmi dan meminta doa.


"Beda dong, Ketum PBNU memperingatkan agar kantor NU tidak boleh dijadikan ajang politik praktis. Rais kami itu kan kiayi, ada yang datang minta didoain, ya pasti didoain lah, doa kiayi itu pasti kata kuncinya maslahat. Misalnya supaya maslahat kalau Pak Airlangga ditakdirkan jadi presiden. Logikanya, kalau sekiranya jadi mafsadat ya kamu terusin sendiri deh," kata Dawam, Sabtu, (6/8).

Dawam meminta agar tidak ada pihak yang memelintir isu di media masa bahwa PWNU Jawa Barat mendukung salah satu calon presiden dalam kontestasi Pemilu 2024.

"Jadi biar ga salah paham, karena framing media ini bisa membuat PWNU Jabar dipanggil oleh PBNU, Pak Ace dkk ke NU itu silaturahim, lalu minta didoain supaya Ketumnya bisa jadi presiden," ujarnya.

"Ya jangankan Pak Ace, bahkan penjahat sekalipun datang ke kiayi minta didoain pasti didoain. Agar semua selalu mendapatkan rahmat Allah, semua hajatnya bisa diqobul sepanjang membawa kemaslahatan. Jadi sekali lagi doa kiayi NU pasti dikaitkan dengan kemaslahatan. Saya kira itu ya," sambung Dawam

Dawam juga menanggapi pernyataan Gus Yahya yang menyerukan supaya perhelatan politik jelang 2024 ini tidak menggunakan politik identitas berbasis SARA. 

"Cukuplah pake identitas partai masing-masing. Ga usah juga NU dijadikan identitas, misalnya saya ini NU, atau saya ini keturunan NU, dan lain-lain.  Tapi bagi yang ngerti sejarah itu emang susah, karena bagaimana pun juga NU itu pernah jadi partai politik," kata Dawam.

"Jadi sisa-sia jaman dulu pasti mengidentikkan dirinya NU bagi yang emang NU. Kalau hanya amaliyah ubudiyahnya sama dengan NU ya almarhum Cak Nur pernah bilang gini: secara amaliyah ubudiyah saya ini tidak ada bedanya dengan NU, tapi saya HMI bukan NU," ujarnya

Dawam menambahkan karena saat ini NU itu bukan partai politik, jadi bagi yang berkontestasi, berkompetisi di tahun 2024 seyogyanya cukup menggunakan partainya saja menjadi indentitas.

Selanjutnya, Dawam juga menanggapi terkait pernyataan Ketua DPD Golkar TB Ace Hasan Syadzily yang mana mengutip pernyataan Gus Yahya dalam kunjungan ke PWNU Jabar ini bahwa NU bukan bagian dari salah satu partai politik.

"Tapi semoga Pa Ace juga tidak lupa kalau NU itu hanya mendirikan satu partai politik yaitu PKB, mafhum muwafaqohnya PKB adalah bagian dari NU, itu yang benar, jangan dibalik. Kenapa NU mendirikan partai? Karena NU sangat tertekan dan tersiksa di zaman Golkar jadi penguasa di era Orde Baru. Maka saat Orde Baru runtuh, NU langsung mendirikan PKB," ungkapnya.

Selain itu Dawam meragukan pernyataan TB Ace Hasan Syadzily yang mana menyampaikan:  "Partai Golkar banyak diisi kader NU karena memang NU sebagaimana saat Muktamar Ketum Gus Yahya bahwa NU tidak dimana-mana, tapi ada dimana-mana termasuk di Partai Golkar".

"Jadi saya ragu Gus Yahya pernah berstatement seperti itu, atau setidaknya saya ga pernah dengar dan ga pernah baca. Yang saya tahu Gus Yahya itu ketum PBNU yang juga kader PKB, chek deh pidato beliau saat ulang tahun PPP di Malang. Yaa saya juga kurang lebih sama denga Gus Yahya, saya sekretaris PWNU yang juga kader PKB," ujarnya.

Namun demikian, Dawam mengucapkan terima kasih atas kunjungan silaturahmi ke Kantor PWNU Jabar. Ia juga meminta maaf karena tidak bisa hadir dalam kesempatan tersebut

"Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih sudah dikunjungi, mohon maaf saya tidak ada di kantor saat Golkar silaturahim ke PWNU," pungkasnya.