Catatan Alcala, dari Muhammad Najib sampai Christopher Columbus

Universidad de Alcala, Madrid, Spanyol/RMOL
Universidad de Alcala, Madrid, Spanyol/RMOL

TEMPAT ini mulai dihuni di abad pertama Masehi dan terletak tidak jauh dari Sungai Henares, Alcala adalah salah satu kota penting di Spanyol. Sejak masa itu.

Bangsa Romawi yang pertama kali menetap di wilayah ini menyebutnya Complutum, yang berarti sebuah kawasan di mana dua sungai bertemu dan bergabung menjadi satu. Kata complutum ini kelak diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi confluence untuk menjelaskan fenomena geografis itu.

Karena itu pula, kini nama resmi kota berpenduduk 250 ribu jiwa ini adalah Alcala de Henares. Ia masuk dalam wilayah Komunitas Otonom Madrid. Dari pusat Madrid, jaraknya sekitar 35 kilometer ke arah timur laut.

Kata alcala tampaknya dipengaruhi oleh kata dalam bahasa Arab, al qala, yang berarti benteng. Ini merujuk pada kota-kota benteng yang dibangun orang-orang Islam ketika menguasai Andalusia di abad ke-8 sampai abad ke-15.

Kemarin Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Spanyol, Muhammad Najib, mengajak saya berkunjung ke kota itu. Persisnya ke Universidad de Alcala.

"Insya Allah, Anda tidak akan menyesal. Ini tidak kalah dari Toledo," ujar Dubes Najib.

Saya mengenal Dubes Najib sejak lama. Seingat saya, tak lama setelah ia meluncurkan novel berjudul "Konspirasi" tahun 2005. Ketika itu ia anggota Komisi VII DPR RI. Dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN).

Saya menemukan novel "Konspirasi" di atas meja di ruang redaksi. Dibawa seorang reporter yang baru datang dari liputan di Gedung DPR RI Senayan.

Saya baca halaman-halaman pertama. Ingin berhenti karena harus mulai menggarap halaman koran. Tapi, sulit.

Lalu saya putuskan untuk meresensi novel itu.

Saya cari nomor telepon sang penulis, kami sedikit berdiskusi mengenai "Konspirasi", dan sejak itu kami bersahabat.

Sebagai penulis, Dubes Najib cukup produktif. Novel "Konspirasi" yang bercerita tentang kehidupan mantan eks-Mujahiddin Afghanistan asal Indonesia itu bukan buku pertama yang ditulisnya.

Sebelumnya, dari pengamatan dan pengalaman di masa-masa awal Reformasi saja ia telah menulis setidaknya 8 buku!

Artikel-artikel yang ditulisnya dalam beberapa tahun dan diterbitkan RMOL telah dibukukan. Menjadi 5 buku!

Dubes Najib mulai bertugas di Madrid bulan November lalu. Dalam waktu kurang lebih 6 bulan sejak itu, ia sudah menyelesaikan 2 novel yang terinspirasi kisah kejayaan dan kehancuran Islam di Andalusia.

Jadi, saat mendengar ia mengatakan, "Insya Allah, Anda tidak akan menyesal," saya yakin itu bukan basa-basi untuk menghibur saya yang batal berkunjung ke Toledo.

Tadinya saya memang sudah siap-siap untuk kecewa. Bagaimanapun Toledo adalah kota penting di Spanyol. Provinsi yang masuk dalam Komunitas Otonom Castilla - La Mancha ini pernah menjadi pusat kekuasaan Visigoth di Semenanjung Iberia dari 542 sampai 725 M.

Pengaruh Toledo sebenarnya sudah berkurang jauh saat Bani Ummayah dari Damaskus, Suriah, tiba di Andalusia. Abdurrahman ad Dakhil yang melarikan diri dari tanah kelahirannya tiba di Andalusia tahuh 750 M.

Dari Cordoba, perlahan tapi pasti ia mengonsolidasi kekuatan dan kekuasaan. Menjadikan Cordoba dan dirinya sebagai kekhalifahan alternatif selain Abbasiyah di Baghdad, Irak, dan Fatimiyah di Kairo, Mesir.

Tahun 1492 kejayaan Islam di Andalusia berakhir. Di tahun itu, Raja Ferdinand II dari Aragon dan istrinya Ratu Isabela dari Castile merebut benteng terakhir Islam di Alhambra, Granada.

Lebih dari separuh abad kemudian, di tahun 1561 Raja Philip II membangun pusat pemerintahan di Madrid.

***

Universitas Alcala cukup tua. Cikal bakalnya adalah sebuah Studium Generale yang didirikan tahun 1293 oleh Raja Sancho IV dari Castile. Tahun 1459, Paus Pius II memerintahkan pendirian tiga cathedras di tempat itu sehingga ia semakin lengkap menjadi lembaga pendidikan tinggi.

Di penghujung abad ke-15, persisnya 1499, Kardinal Francisco Jimenez de Cisneros mendirikan universitas di Alcala de Henares yang menurut Wikipedia, dalam catatan sejarah dikenal dengan berbagai nama, dari Universitas Complutense, Universitas Cisneriana, sampai Universitas Alcalá.

Di tahun 1836 Ratu Maria Christina memindahkan Universitas Alcala ke Madrid dan mengubah namanya menjadi Literary University, lalu di tahun 1851 menjadi Universitas Pusat Madrid.

Di tahun 1970, namanya kembali diubah. Kali ini menjadi Universitas Complutense Madrid.

Di tahun 1975, Universitas Complutense kembali ke Alcala dengan membuka cabang di sana, dan di tahun 1977 nama lama universitas ini dikembalikan: Universidad de Alcala de Hernares.

Sampai sini soal ganti-mengganti nama ternyata belum berhenti. Di tahun 1996, namanya disingkat menjadi Universidad de Alcala. Sampai kini, dan entah nanti.

Dua tahun kemudian, UNESCO menetapkan komplek kampus ini sebagai Situs Peninggalan Dunia.

Tadi kami sempatkan duduk sebentar di kafetaria di bagian dalam gedung rektorat yang klasik dan antik. Mendengarkan penjelasan seorang teman tentang beberapa tokoh dunia yang mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dari Universidad Alcala.

Misalnya tokoh Palestina Yasser Arafat dan tokoh Israel Shimon Peres (1996), juga mantan Sekjen PBB Kofi Annan. Tokoh antiapartheid dari Afrika Selatan yang gemar pakai batik Indonesia itu mendapatkan gelar DRHC tahun 2001.

***

Tentu saja Alcala tidak hanya soal Universidad de Alcala. Ingat, kota ini sudah berdiri sejak abad pertama Masehi. Tentu banyak hal yang telah terjadi. Salah satunya sangat mempengaruhi perjalanan peradaban manusia. Sampai kini.

Kita tentu saja mengenal nama pelaut kelahiran Genoa, Italia ini: Christopher Columbus.

Seperti penjelajah sebelum dan sesudahnya setelah era Rennaisance itu, mimpi Columbus pun ada satu, yakni melakukan pelayaran untuk menemukan dunia baru.

Columbus berpikir out of the box. Bila ingin menemukan dunia baru yang kaya rempah di Timur, tidak harus mengekor di belakang pelaut-pelaut yang sudah berangkat lebih dahulu.

Proposal Columbus sederhana. Untuk menemukan Timur dalam waktu singkat, ia akan berlayar ke Barat, membelah Atlantik.

Tapi dia harus kecewa berkali-kali. Tahun 1485, ia tawarkan gagasan ini kepada Raja John II dari Portugal. Tapi ditolak.

Mungkin karena permintaannya terlalu banyak. Dia minta diangkat sebagai Laksamana Besar dan gubernur untuk setiap dunia baru yang ditemukannya.

Sebetulnya Raja John II tak langsung menolak proposal itu. Dia membawa peoposal itu ke Dewan Pertimbangan Raja. Merekalah yang menolak.

Columbus tak mudah menyerah. Tahun 1488, ia kembali menyampaikan proposal yang sama. Kali ini Raja John II mengundangnya hadir dalam pertemuan dengan Wantimja. Hasilnya, kembali ditolak.

Ditolak dua kali di Portugal, Columbus kembali ke kampung halamannya di Genoa dan Venice. Tapi, Italia pun tak tertarik.

Dia lalu mengutus adiknya, Bartholomew Columbus, menghadap Raja Hendry VII di Inggris. Tapi lagi-lagi sama saja.

Pada 1 Mei 1486 Columbus menyampaikan rencana penjelejahannya pada Ratu Isabela I dari Castile. Mereka bertemu di istana Isabela di Alcala.

Tapi meyakinkan Isabela bukan hal yang mudah. Kelompok penasihat Isabela juga menilai proposal Columbus tidak begitu meyakinkan. Apalagi Isabela dan suaminya Raja Ferdinand II dari Aragon sedang berusaha menundukkan Granada. Mereka tak mau kehilangan fokus.

Tapi di sisi lain, Isabela tak ingin ide Columbus itu diambil pihak lain. Maka untuk mengikat Columbus, Isabela memberikan tunjangan tahunan dalam jumlah cukup besar untuk Columbus. Selain itu, penguasa kota-kota di bawah domain Ratu Isabela diperintahkan menjamu Columbus sebaik mungkin.

Columbus tak puas. Tapi situasi ini lebih baik daripada penolakan-penolakan yang telah dialaminya sebelum itu.

Tahun 1492 Ferdinand II dan Isabela I berhasil merebut seluruh Andalusia. Granada, benteng terakhir penguasa Muslim direbut dengan mudah.

Tak lama setelah kemenangan besar itu, Columbus bertemu dengan pasangan adikuasa ini di Benteng Alcazar di Cordoba.

Selanjutnya, kita sudah sama-sama tahu, pelayaran ke barat untuk menemukan timur itu pun dimulai.

Selesai soal Alcala?

Belum. Masih ada sambunganya. Tapi nanti. Saya mau ke kebun bunga tulip dulu. Di Belanda.