Cegah Corona, Disnakertrans Bandung Barat Minta Perusahaan Laporkan Rekam Medis TKA

Menindaklanjuti instruksi Bupati Aa Umbara Sutisna mengenai pendataan Tenaga Kerja Asing (TKA), Dinas Tenaga dan Transmigrasi (Disnakertrans) Bandung Barat pun mengeluarkan Surat Edaran (SE) terkait Penggunaan TKA kepada seluruh perusahaan di Bandung Barat.


 

Kepala Disnakertrans Bandung Barat, Iing Solihin mengatakan, pihaknya telah menerbitkan SE bernomor 400/177/01-Disnakertrans dan merupakan bentuk tindak lanjut arahan bupati yang berkaitan dengan TKA dan virus corona yang saat ini meresahkan masyarakat.

Dalam surat  tersebut, ada tiga poin penting menjadi perhatian perusahaan yang melibatkan TKA agar melaporkan jumlah TKA aktif, mewajibkan TKA untuk melapor dan melampirkan data riwayat kesehatan terbaru dari rumah sakit, serta menyerahkan laporannya ke Disnakertrans.

"Tentu kami juga telah berkoordinasi dengan Dinkes dalam melakukan pemeriksaan kesehatan atau general check up para TKA supaya rekam medis ini ke depannya harus dilakukan secara berkala, tidak hanya diperiksa kesehatannya pada saat awal bekerja saja," kata Iing ditemui, Jumat (31/01).

Disampaikan Iing, pihaknya pun telah berkoordinasi dengan sejumlah perusahaan di Bandung Barat yang melibatkan para pekerja dari negara lain. Yang mana, dari hasil koordinasi tersebut mendapat sambutan positif dari pihak perusahaan.

"Makanya perlu lah pasca masuk ke imigrasi sebelum dipekerjakan itu, seharusnya diperiksa dulu oleh rumah sakit pemerintah supaya diketahui sehat atau tidaknya," ujar Iing.

Jumlah TKA aktif yang bekerja di Bandung Barat sendiri, paparnya, tahun 2020 mencapai lebih 900 TKA di seluruh perusahaan. Sedangkan TKA asal China yang terlibat pada proyek KCIC jumlahnya mencapai 670 orang dengan alamat perusahaan tercantum di Jalan Pluit Raya, Kelurahan/Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

"Ini update terbaru dari periode 1 Januari 2019 sampai bulan Desember 2019, nah, TKA asal China tersebut di bawah naungan perusahaan China Railway Group Limited yang bekerja pada proyek KCIC yang tersebar di beberapa kecamatan. Ada di Padalarang, Cikalongwetan, dan beberapa tempat lain," paparnya.

Dijelaskan Iing, sebelumnya Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan, Keselamtaan dan Kesehatan Kerja, Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) telah mengeluarkan surat edaran perihal kewaspadaan penyebaran penyakit pneumonia berat yang tidak diketahui penyebabnya pada pekerja.

Salah satu poin penting dari surat tersebut, mewajibkan kepada setiap pimpinan perusahaan melakukan antisipasi terjadinya kasus pneumonia berat (corona) dengan tindakan-tindakan pencegahan, yaitu perilaku hidup bersih dan sehat dengan mengintegrasikan dalam program keselamatan dan kesehetan kerja (K3), seperti optimalisasi fungsi pelayanan kesehatan.

"Kalau sudah seperti ini, otomatis (pemeriksaan kesehatan) harus semuanya (diberlakukan bagi seluruh TKA yang bekerja di Indonesia). Siapa tahu bukan virus corona saja, barangkali ada penyakit lain atau virus lainnya, lebih baik kita antisipasi lah," pungkasnya.

Sebelumnya, Bupati Bandung Barat, Aa Umbara Sutisna menginstruksikan Disnakertrans serta Dinas Kesehatan (Dinkes) Bandung Barat untuk mendata jumlah TKA dan meminta hasil rekam medisnya. Umbara khawatir para TKA asal China yang bekerja pada proyek KCIC membawa masuk penyakit , khususnya virus corona yang melumpuhkan masyarakat di 15 kota di China.

"Apalagi, belum lama ini, para TKA asal China tersebut pulang ke negaranya untuk merayakan libur Imlek 2020," ujar Umbara, Senin (27/01) lalu.