Dampak Ekonomi Pandemi Covid-19, Di Kabupaten Cirebon Banyak Petugas Kesulitan Tagih PBB

Ilustrasi/Repro
Ilustrasi/Repro

Terimbas pandemi Covid-19, banyak warga Kabupaten Cirebon yang belum melunasi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Menurunnnya penghasilan sampai kehilangan pekerjaan jadi alasan warga tak segera menunaikan kewajibannya itu.


Akibatnya banyak kolektor PBB yang kerja banting tulang untuk mengejar target yang dibebankan padanya.

Setidaknya hal itu tergambar dari pengakuan  koordinator kolektor PBB di Kecamatan Greged Kabupaten Cirebon, Lubis Marzuki (40).

“Para kolektor pajak disini sudah berkeliling menagih pada wajib pajak, namun sampai saat ini pencapaian PBB masih di bawah 50 persen, berbeda dengan tahun sebelumnya, wajib pajak sudah melunasi PBB lebih dari 60 persen, “ ujarnya kepada RMOLJabar, Selasa (22/9)malam.

Menurut Marzuki,  tahun ini  para kolektor sangat banyak menemukan  wajib pajak (WP) yang  merasa keberatan untuk melunasi PBB. Meski beragam alasan disampaikan oleh para WP, kata Lubis, namun kebanyakan  karena menurunnya kemampuan perekonomian hingga  kehilangan mata pencaharian akibat pandemi  Covid-19.

“Banyak juga para perantau yang terpaksa pulang kampung akibat pandemi Covid-19,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Anggota DPRD Kabupaten Cirebon, Khanafi, berharap para petugas pemungut PBB tak berkecil hati dan tetap menumbuhkan optimism dalam menjalankan tugasanya.

Ia meminta para petugas memaksimalkan upayanya hingga, 31 Oktober 2020, batas akhir untuk wajib pajak (WP) melunasi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

“Untuk tahun ini ada penurun pendapatan dari sektor pajak bumi dan bangunan, melihat situasi dan kondisi ekonomi masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19, tapi kami harapkan pada para kolektor untuk tetap optimistis target PPB dapat dilunasi sebelum jatuh tempo,”pungkasnya.