Delapan Rekannya Ditangkap MIM Tuding Kepolisian Diskriminatif

Aksi Penolkan UU Ciptaker di Gerbang Tol Pasteur/RMOLJabar
Aksi Penolkan UU Ciptaker di Gerbang Tol Pasteur/RMOLJabar

Mahasiswa yang tergabung ke dalam Mahasiswa Indonesia Menggugat MIM, melakukan aksi penolakan UU Cipta Kerja (Ciptaker) di depan Gerbang Tol Pasteur, Kota Bandung, Jumat (23/10). Dinilai melanggar UU No. 36 Tahun 2004 tentang jalan, aksi tersebut dibubarkan polisi dan delapan mahasiswa ditahan.


Setelah kejadian itu Juru bicara (Jubir) MIM, Lingga, menjelaskan kronologis pembubaran aksi mereka oleh aparat kepolisian.

“Kami mengawali aksi dengan long march dari Jalan Babakan Jeruk menuju persimpangan Gerbang Tol Pasteur, tanpa ada yang menghalangi.Lalu,aparat kepolisian menghadang kami. Namun, saat itu kondisi dilapangan masih kondusif," tuturnya di sekitaran Jalan Perintis Kemerdekaan, Sabtu (24/10).

Setengah jam kemudian, kata Lingga, aparat kepolisian mulai membubarkan massa aksi dengan cara represif.

"Mahasiswa ditendang di area perut. Kami sangat-sangat menyayangkan tindakan tersebut," ujar Lingga.

Ia membenarkan, ada beberapa peserta aksi yang di tangkap  dan ditahan aparat kepolisian.

Masih di tempat sama, Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Liong mengatakankan, saat terjadi penangkap posisi dirinya agak jauh dari peserta aksi lainnya. Namun ia mengaku bisa melihat bagaimana aparat kepolisian telah melakukan kekerasan dan penangkapan terhadap rekan-rekannya.

Lalu, Perwakilan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Bandung, Deri menuding para petugas kepolisian telah berlaku diskriminatif.

"Yang terjadi di lapangan tidak hanya mahasiswa, dari ormas turun ke jalan, bergerombol dan ikut serta menghambat laju kendaraan. Tapi yang kami sayangkan, ditangkap hanya dari mahasiswa, dari ormas terkesan diabaikan," pungkasnya.