Dinilai Kooperatif, Tersangka Kebakaran Kejagung Tak Ditahan

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Brigjen Ferdy Sambo/RMOL
Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Brigjen Ferdy Sambo/RMOL

Subjektifitas menjadi alasan tim penyidik Bareskrim Polri tidak melakukan penahanan terhadap para tersangka kebakaran Gedung Utama Kejaksaan agung (Kejagung).


Sebelumnya, tim telah melakukan pemeriksaan terhadap tujuh orang tersangka. Satu orang tersangka berinisial NH, dari internal Kejagung mangkir tidak menghadiri pemeriksaan pada Selasa (27/10) kemarin.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Ferdy Sambo mengatakan, tujuh orang tersangka yang hadir memenuhi panggilan polisi untuk diperiksa yakni, TR, SL, KR, HL, IS, UT dan RS. Pemeriksaan terhadap para tersangka selesai sekira pukul 19.00 WIB.

"Penyidik tidak melakukan penahanan, karena dianggap kooperatif dengan jaminan penasihat hukumnya," kata Ferdy kepada wartawan, Rabu (28/10).

Tujuh tersangka yang hadir ialah S, H, T, K dan IS kelimanya merupakan tukang kemudian UAM ialah mandor dan satu orang tersangka lainya yakni R Direktur PT APM penyedia cairan pembersih yang dipakai oleh cleaning service Kejagung.

"Para tersangka tukang hadir didampingi oleh penasehat hukum yang disediakan oleh saudara UAM, dan saudara Rustam mendampingi UAM," beber Ferdy.

Kedepan, pihaknya bakal melakukan pemanggilan ulang NH pejabat eselon IV Kejagung dan melakukan pemanggilan sanksi-saksi alias nama-nama yang disebutkan para tersangka telah dilakukan pemeriksaan.

Tim gabungan penyidik menyimpulkan kebakaran Gedung Utama Kejagung karena unsur kelalaian bukan kesengajaan. Sebab, saat peristiwa kebakaran hebat pada Sabtu 22 Agustus lalu, ada lima orang tukang yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka tengah melakukan pekerjaan di lantai 6 aula Kepegawaian Kejagung.

Namun, kata Ferdy, para tukang tersebut selain melakukan kegiatan atau pekerjaan yang ditugaskan, mereka juga melakukan tindakan atau kegiatan yang seharusnya tidak boleh dilakukan yaitu merokok di ruangan tempat mereka bekerja.

Dalam kasus kebakaran tersebut, Bareskrim menetapkan delapan orang tersangka yakni T, H, S, K, dan IS, berprofesi sebagai kuli bangunan dan satu mandor tukang inisial UAM.

Sementara dua tersangka lainnya yakni, Direktur Utama PT APM berinisial R dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dari Kejagung dengan inisial NH. Para tersangka dijerat pasal 188, 55 dan 56 KUHP dengan ancman hukuman lima tahun penjara.