DM dan Yudha: Etika dan Hukum

DM dan Yudha/FB Kang Dedi Mulyadi
DM dan Yudha/FB Kang Dedi Mulyadi

SIKAP Dedi Mulyadi terhadap Yudha menurut saya terlalu reaktif dan berlebihan. Sikap DM seperti ini menunjukkan DM tidak siap untuk di kritik. DM melakukan tindakan dengan mengunjungi Sekrtariat Cabang HMI Purwakarta dan dua kampus yang diduga tempat kuliah Yudha.

Tidak puas dengan itu DM juga mengunjungi lingkungan rumah kediaman Yudha. Hingga Yudha mungkin juga keluarga merasa tidak nyaman dengan tindakan mantan Bupati Purwakarta tersebut, dan tindakan tersebut dapat ditafsirkan sebagai bentuk intimidasi dan teror.

Oleh karena itu menurut hemat saya perlu adanya penyelesaian masalah agar tidak menjadi preseden buruk bagi tegaknya demokrasi di Purwakarta dan Indonesia pada umumnya.

Di samping itu sikap pendukung DM yang membuly Yudha juga sudah termasuk pada tindakan yang tidak etis. Padahal menurut hemat saya sikap dan tindakan Yudha masih dalam taraf kritik yang wajar secara etika. Dia berbicara tidak dengan marah-marah apalagi mencaci.

Bahkan ketika diajak untuk berbicara dalam ruangan Yudha masih bertindak santun. Tapi bully terhadap Yudha cukup nyelekit, bahkan yang lebih parahnya lagi DM ikut-ikutan membully Yudha, dengan menyebut kata-kata (ngalelewe kata orang sunda) yang sering diucapkan Yudha.

Sebagai Public figure  DM harusnya lebih bijak menyikapi kritik mahasiswa terhadap dirinya. Dulu kita sama-sama tahu waktu DM jadi wakil Bupati, Bagaimana sikap dan tindakan dia pada Bupati? Dan ketika jadi Bupati, bagaimana sikap dan tindakan dia ketika dikritik?

Sikap dan tindakan DM menurut saya ada dua perspektif, satu ditinjau dari segi hukum: Yudha dapat saja melaporkan kepada kepolisian atas tindakan yang dilakukan DM karena dianggap mengintimidasi dan menteror dirinya. Bahkan DM tidak cukup puas dengan mencari Yudha bahkan sampai mengundang organisasi HMI, mendatangi dan menginterogasi pengurus HMI yang ada di POSKO HMI.

Tidak cukup dengan itu DM juga mendatangi kampus bahkan lucunya ketika di kampus DM mengungkit-ungkit jasa dan perannya dalam membangun kampus (seolah –olah DM ingin mengatakan kalau ingin bantuannya janganlah sekali-kali mengkritik). Di samping itu Yudha dapat saja melaporkan DM, karena DM dianggap telah melampaui kewenangannya sebagai anggota DPR RI ke Ombudsman atau mungkin ke Pengadilan Tata Usaha Negara.

Yang kedua dari segi etika DM harusnya menjadi teladan dengan mengedepankan dialog yang seimbang dan bermartabat. Bukan malah ikut-ikutan membully. Malah harusnya mencegah perbullyan. Dia pasti tahu bagaimana menghadapi mahasiswa karena dulunya dia, jadi besar dan hebat seperti sekarang ini karena dibesarkan HMI.

Bahkan di Jawa Barat dia pernah menjadi pengurus di tingkat Provinsi. Secara etika harusnya DM lebih dewasa dan tidak reaktif. DM memiliki kekuasaan dimulai dari dukungan mahasiswa khususnya HMI. Oleh karena itu dia harusnya dapat membangun HMI Purwakarta menjadi lebih baik.

Perspektif lain tentang DM, disamping dua pandangan di atas saya sebagai orang yang lahir dan besar di Purwakarta mengamati dan mencermati apa yang dilakukan DM terkait perannya sebagai politisi.

Pertama dia telah berhasil menjadikan istrinya sebagai Bupati. Saya yakin masyarakat Purwakarta tidak mempermasalahkan bahkan mendukungnya tapi ketika tugas pokok dan fungsinya diintervensi DM, ini jelas merusak demokrasi.

Bukankah ketika DM memilih isterinya menjadi penggantinya harusnya dia telah mengkader dan menyiapkan dengan baik. Dan harusnya selama dua periode kepemimpinannya harusnya dia telah dapat membangun budaya, system dan manajemen yang berkelanjutan.

Berikutnya dia juga telah berhasil memilih dan mengangkat anak kandungnya menjadi pemimpin partai. Mungkin hal ini di tubuh partai Golkar tidak masalah tapi secara etika kita akan mempertanyakan fungsi pemimpin DM ketika menjabat sebagai ketua partai yaitu bagaimana dia melakukan kaderisasi? Apakah memang dia menyiapkan Purwakarta bagi anak dan isterinya? Padahal dia sedang menjalankan tugas Negara.

Kasus DM dapat menjadi batu pijakan dan koreksi bagi system perpolitikan yang ada di Purwakarta, juga sekaligus kritik bagi politisi agar dapat belajar dari DM yang telah bersungguh-sungguh dalam berpolitik. Saya tetap salut sama DM karena telah berhasil menjadi Bupati 2 kali, dan menjadikan isterinya Bupati juga dapat menjadikan anaknya ketua Partai juga telah membangun Purwakarta menjadi lebih baik. Tapi sebagaimana kata pepetah “Tak ada gading yang tak retak”. Semoga Kang DM tetap semangat membangun Purwakarta, Jawa Barat, juga Indonesia dan tetap sehat! Semoga menjadi lebih bijak dan ikhlas dalam beraktivitas.

Salam Sayang, dari Mang Asep Purwa

Penulis adalah Pengamat Sosial dan Politik di Purwakarta