Dua Tahun Kerap Dilanda Banjir, Pemkab Subang Harus Berikan Solusi Konkret

Ihsan Nasrudiansyah/Ist
Ihsan Nasrudiansyah/Ist

Bencana banjir yang melanda Kabupaten Subang selama dua tahun terakhir sejak 2019-2021 seolah menunjukkan tidak ada niat serius untuk memperbaiki dan mencari cara yang ampuh dalam menuntaskan persoalan tersebut.


Solusi banjir hanya menjadi wacana saat terjadi bencana. Setelah surut, tidak pernah kembali dibahas pemerintah. Di berbagai tingkatan khususnya Kabupaten Subang sendiri, tidak ada program terpadu jangka menengah maupun jangka panjang yang diharapkan menjadi solusi konkret untuk menanggulangi bencana banjir.

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Subang Ihsan Nasrudiansyah menilai, banjir sejatinya bisa diprediksi saat musim hujan tiba. Mengingat curah hujan rata-rata tahunan di Indonesia selama 50 tahun terakhir cenderung tetap, hanya distribusi waktu yang berubah.

"Jangankan mendapat solusi dari masalah banjir, penerapan kedaruratan bencana nya saja pemkab Subang masih gagap! Buktinya, dapur umum saja tidak memadai dan mencukupi," ujar Ihsan. Rabu (17/2).

Solusi dari Pemprov Jabar, yakni Bendungan Sadawarna yang masih dalam pembangunan sekitar 50 persen, seharusnya diselesaikan lebih cepat. Warga terdampak harus ada relokasi pemukiman baru, bukan diusir kemudian pemukimannya tidak diperhatikan karena adanya bendungan Cipunagara dan Ciberes.

“Mereka juga warga Jabar, sudah 50 persen pembangunan, pemukiman baru untuk warga terdampak, sampai saat ini tidak diperhatikan, perhatikan juga! jangan sampai setelah digusur warga jadi gelandangan,” lanjutnya.

Menurutnya, Sadawarna baru salah satu bendungan karena masih banyak lagi yang perlu dilakukan dan harus komprehensif. Di Subang Selatan dengan penghijauan, sungai yang mengalami pendangakalan harus segera dibenahi, tanggul yang tidak ada perawatan dan peningkatan sepanjang jalur Cipunagara dan Cigadung yang menjadi langganan banjir setiap tahun harus jadi program prioritas Pemkab Subang.

“Optimalisasi embung atau situ-situ dan pendalaman sungai yang dangkal di seluruh Subang harus segera jadi program kerja prioritas, dan peran serta masyarakat dalam bentuk membuat serapan serapan air hujan di sekitar pemukiman dan tidak buang sampah sembarangan dan masih banyak lagi” tuturnya.

Bencana banjir kata Ihsan, bukan soal bantuan untuk korban bencana terdampak. Seharusnya sudah membahas terkait bagaimana menjaga dan membangun Subang khususnya wilayah Pamanukan agar di tahun yang akan datang tidak menjadi langganan banjir.

"Program Pemkab Subang hanya sebatas launcing, kemudian kapan program tersebut dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Subang. Launching itu memang program atau hanya sebatas pengguguran kewajiban yang tidak memiliki solusi berkelanjutan?" tanya Ihsan.

Pihaknya menilai Pemkab Subang dalam belum siap dan tidak sigap dalam penanganan bencana banjir. “Apakah banjir yang melanda di tahun kemarin belum dikaji ? atau sudah dikaji tetapi belum menemukan solusi ?” tutup Ihsan.