Ekonom Meyakini Penyesuaian Harga BBM Tidak Sampai Memicu Resesi

Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net

Kenaikan harga-harga hingga inflasi merupakan imbas dari kondisi geopolitik yang masih panas. Namun, kondisi tersebut diyakini tidak terlalu terjerumus hingga tahap resesi, apalagi dikaitkan dengan kenaikan harga BBM.


Hal tersebut disampaikan Direktur Riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Berly Martawardaya, Jumat (23/9).

“Geopolitik ketidakpastian akan meningkat sehingga harga-harga dan dorongan inflasi akan makin tinggi dalam enam bulan kedepan, trennya meningkat,“ kata Berly.

Melihat kondisi saat tersebut, ia mengimbau pemerintah tetap menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok. Jika inflasi masih terus terjadi, Bank Indonesia (BI) harus menaikkan suku bunga acuan.

“Karena kalau inflasi tinggi, nilai rupiah secara riil turun. Kalau selisih terlalu jauh dengan dolar atau euro, capital outflow rupiah melemah, BI akan terpaksa untuk menaikkan suku bunga,” tutur Berly.

Di sisi lain, pengamat isu-isu strategis, Prof Imron Cotan menyampaikan, penyesuaian harga BBM merupakan hal wajar. Keputusan tersebut diambil guna menyesuaikan dengan kondisi geopolitik global yang masih tak stabil.

"Penyesuaian harga BBM wajar dilakukan oleh pemerintah-pemerintah di dunia, sejalan dengan tantangan ekonomi yang mereka hadapi," tegasnya seperti diwartakan Kantor Berita Politik RMOL.