Gegara Tanya Pemilihan Ketua OSIS, Siswa SMK di Kota Bogor Ditendang Guru

Ilustrasi kekerasan/Net
Ilustrasi kekerasan/Net

Aksi kekerasan guru terhadap siswa di Kota Bogor kembali terjadi. Kali ini dialami MA, seorang siswa SMK Kelas XI yang sekolahnya berlokasi di Jalan NV Sidik, Kelurahan Batu Tulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. 


MA mengatakan, peristiwa terjadi pada Jumat 26 Agustus 2022. Kala itu, dirinya menanyakan kepada oknum guru tersebut terkait pemilihan OSIS di sekolahnya. Namun bukannya dijawab, gurunya malah melakukan kekerasan dengan cara menendang. 

"Jadi waktu itu guru saya menyampaikan kepada siswa-siswi yang ada di kelas untuk memilih ketua OSIS yang baru, dengan pilihan nomor 1, 2 dan 3. Di situ saya nanya, pak kalau untuk nomor 4 ada ga pak? Dan waktu saya nanya gitu, saya malah ditendang sama pak guru menggunakan kakinya," ungkap MA kepada wartawan belum lama ini.

Saat guru tersebut menendang, posisi MA sedang duduk dan langsung menepis dengan membelokan badannya, dengan tujuan agar tidak kena dada, sehingga tendangan gurunya mengena tangan kanan bagian belakang atas (bawah pundak, red).

Bukan hanya itu, MA pun mendapat hukuman lain dari oknum guru tersebut, yaitu push-up dengan tanpa ada hitungan dari gurunya.

"Nah, setelah itu saya di suruh push-up tanpa dihitung harus berapa. Saya cuma bilang cukup pak. Terus tangan bekas tendangan pak guru masih pegal-pegal," katanya. 

Setelah mendapat perlakuan kekerasan dari gurunya, ia menceritakan kepada orang tuanya di rumah dan setelah diceritakan semuanya, orang tua MA marah dan tidak terima dengan perlakuan guru terhadap anaknya tersebut. 

"Pas saya dengar cerita anak saya ditendang sama gurunya, jelas saya tidak terima. Orang tua mana ketika anaknya dilakukan oleh gurunya kaya gitu engga marah, ya pasti marah lah. Masa guru kaya gitu, harusnya kan memberikan contoh yang baik, harus mendidik. Bukan ditendang," ungkap orang tua MA sembari menangis. 

Lanjut orang tua MA, bahwa anaknya itu punya riwayat usus buntu dan apabila tendangan oknum gurunya itu terkena perut MA maka akan kambuh dan pastinya sangat sakit.

"Anak saya itu punya riwayat usus buntu, kalau kena perutnya saya ga bisa ngebayangin. Untung anak saya bisa melindungi pakai tangannya," ketusnya. 

Ia menambahkan kalau hukumannya hanya sekedar menjewer atau mencubit, dirinya masih mentolerir, tetapi kalau sudah menendang seperti itu Ia pun murka hingga akhirnya orang tua MA ke sekolahnya untuk menemui guru tersebut. 

"Kata anak saya, ini guru ngajar pelajaran PKN bernama T. Terus saya ke sekolah dengan tujuan untuk bertemu kepala sekolah, tetapi saya hanya ketemu guru BK (Bimbingan Konseling) dan juga oknum guru yang sudah tentang anak saya. Dia (oknum) mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Jujur, meski dia (oknum) sudah minta maaf, saya sebagai orang tua masih kesal, masih sakit hati," kesalnya. 

Terpisah, oknum guru atau pelaku kekerasan bernama Tiar, membenarkan peristiwa tersebut dilakukan olehnya. Alasannya, karena apa yang dilakukan siswanya itu terkesan meledek hingga memancing emosi dan akhirnya melakukan hal tersebut. 

"Saya akui, saya salah. Saya khilaf, saya sudah minta maaf ke MA dan juga orang tuanya," kata Tiar saat ditemui di sekolahnya. 

Tiar yang mengaku sebagai guru pembina OSIS di SMK tersebut menambahkan, dirinya sudah menyampaikan peristiwa tersebut kepada pimpinan dalam hal ini kepala sekolah.

"Sudah saya laporkan, ya ga tahu lagi apa yang bisa dilakukan selain meminta maaf," ujarnya. 

Sementara itu, Kepala SMK Bhakti Insani Budiono mengatakan, bahwa permasalahan guru dan siswanya sudah selesai dan sudah saling memaafkan.

"Saya juga sudah panggil Pak Tiar, agar hati-hati dalam tugasnya. Maaf saya lagi sakit," singkat Budiono saat dikonfirmasi melalui pesan singkat.