Gugatan Habib Bahar Dipenuhi, Bapas Bogor Diminta Berikan Kembali Hak Asimilasi

Persidangan Habib Bahar bin Smith di PTUN bandung, Senin (12/10)/RMOLJabar
Persidangan Habib Bahar bin Smith di PTUN bandung, Senin (12/10)/RMOLJabar

Gugatan yang dilayangkan Habib Bahar bin Smith terhadap Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Bogor, dikabulkan Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung. Pasalnya, Surat Keputusan (SK) pembatalan asimilasi yang dikleuarkan dianggap tidak sah.


Ketua Majelis PTUN Bandung, Faisal Zad menjelaskan, Surat Keputusan Kepala Bapas Kelas II Nomor: W11.PAS.PAS33.PK.01.05.02–1987 tanggal 18 mei 2020 tentang Pencabutan Surat Keputusan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Cibinong Nomor: W11.PAS.PAS.11.PK.01.04-1473 tahun 2020, dinyatakan tidak sah. Sehingga, hakim menerima seluruh gugatan dari penggugat.

"Dalam eksepsi, menolak eksepsi tergugat seluruhnya. Mengadili dalam pokok sengketa mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya," jelasnya, Senin (12/10).

Dengan putusan tersebut, hakim memerintahkan tergugat untuk mencabut surat keputusan dan memberikan kembali hak asimilasi terhadap terpidana kasus penganiayaan remaja yakni Habib Bahar bin Smith. Hakim menilai surat keputusan yang menjadi objek sengketa tidak sah karena seharusnya surat disampaikan kepada keluarga Bahar Smith saat penjemputan tokoh Front Pembela Islam (FPI). 

"Menimbang surat keputusan Kalapas Cibinong tidak disampaikan ke penggugat meski dibawa tapi tidak dibacakan secara langsung saat menjemput. Namun hanya disampaikan asimilasi dicabut," ujarnya.

Sementara itu, Kuasa Hukum Bahar Smith Azis Yanuar meminta pihak Bapas Kelas II Bogor ataupun Kementerian Hukum dan HAM segera merealisasikan putusan hakim itu dengan mengembalikan hak asimilasi Bahar Smith. 

"Gugatan penggugat atas pencabutan (asimilasi) itu diterima oleh majelis hakim, sehingga HBS (Bahar Smith) harus dikembalikan asimilasinya," kata Azis. 

Sebelumnya, Bahar Smith kembali dijebloskan ke Lapas Gunung Sindur pada Selasa (19/5) setelah sempat dibebaskan melalui hak asimilasi pada Sabtu (16/5). Bahar dikembalikan ke Gunung Sindur sebab program asimilasi yang diberikan kembali dicabut karena Bahar dinilai melanggar ketentuan asimilasi.

Sebagaimana diketahui, Bahar sempat berceramah di pondok pesantrennya, Tajul Alawiyyin, setelah bebas melalui hak asimilasi. Dalam kegiatan tersebut, jemaah yang hadir tampak mengabaikan protokol kesehatan.