Guru Besar Unpad Soroti Pelayanan Kesehatan Gigi Anak dan Individu Berkebutuhan Khusus

Ilustrasi anak berkebutuhan khusus/Net
Ilustrasi anak berkebutuhan khusus/Net

Cakupan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang diterima anak dan individu berkebutuhan khusus tidak sebanding dengan jumlah kelompok tersebut. Padahal, anak serta individu berkebutuhan khusus berisiko tinggi memiliki kesehatan gigi yang buruk.


Hal itu dikatakan Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Eriska Riyanti.

"Masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak dan Individu berkebutuhan khusus sering dikaitkan dengan kemampuan mental dan fisik, dan menempatkan mereka pada risiko tinggi untuk kesehatan gigi yang buruk,” kata Prof. Eriska.

Menurut Prof. Eriska, pada Sekolah Luar Biasa (SLB) acapkali tak terdapat program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS). Biasanya, pemeriksaan kesehatan gigi serta mulut pada anak-anak di SLB dilakukan jika ada kegiatan pengabdian masyarakat dari instansi kesehatan dan pendidikan, serta penyuluhan yang dilakukan oleh mahasiswa kedokteran gigi atau akademi kesehatan gigi.

"Sehingga tidak ada program pemeriksaan dan pencegahan serta pengobatan yang berkesinambungan,” ujarnya.

Prof. Eriska menjelaskan, penyebab permasalahan kesehatan gigi dan mulut anak berkebutuhan khusus bisa dikaitkan dengan infeksi mulut yang sering terjadi dan penyakit periodontal, kelainan lahir kraniofasial, dan kelainan email.

Selain itu juga dapat diakibatkan karena obat-obatan tertentu, diet khusus, serta kesulitan dalam mempertahankan kebersihan sehari-hari.

"Beberapa masalah di rongga mulut yang sering didapatkan pada anak dan individu berkebutuhan khusus adalah penumpukan kalkulus yang menyebabkan gingivitis dan periodontitis, hipoplasia email, karies, malas membersihkan mulut, gigi berjejal, maloklusi, anomali gigi, bruxism, dan keausan permukaan gigi, serta trauma dentoalveolar,” beber Prof. Eriska seperti dimuat laman Unpad, Rabu (30/3).

Lebih lanjut Prof. Eriska mengungkapkan, kendala yang sering ditemukan pada saat merawat anak serta individu berkebutuhan khusus sangat bervariasi, di antaranya keterbatasan akses untuk datang ke dokter gigi yang bersedia memberikan pelayanan, akses ke dokter gigi yang ahli dan berpengalaman, sulitnya penanganan tingkah laku, serta masalah transportasi.

“Oleh karena tidak terpenuhinya kebutuhan perawatan gigi di rumah maka koordinasi dengan pusat-pusat layanan harus tercipta dengan baik,” ungkapnya.

Masalah lainnya, yaitu dibutuhkannya biaya yang lebih tinggi untuk memberikan pelayanan gigi serta mulut bagi anak dan individu berkebutuhan khusus.

Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Prof. Eriska mengatakan perlu adanya peran dari sejumlah pihak. Pemerintah sebagai penentu kebijakan sebaiknya dapat mengeluarkan peraturan serta petunjuk teknis bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut.

Institusi pendidikan yang merupakan ujung tombak dihasilkannya tenaga-tenaga kesehatan yang terampil dan berdaya guna serta institusi pelayanan seperti di puskesmas dan rumah sakit yang perlu memberikan pelayanan sebaik mungkin bagi anak dan individu berkebutuhan khusus. Keterampilan dokter gigi umum dan dokter gigi anak pun perlu terus ditingkatkan.