Sabet Predikat Coumlaude, Pasutri Ini Jadi Lulusan Doktor Termuda di UIN Bandung

Asep Abdul Aziz dan istrinya/Ist
Asep Abdul Aziz dan istrinya/Ist

Pasangan doktor muda di bidang Pendidikan Islam akhirnya lahir di Kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Mereka adalah pasangan suami istri (pasutri) yang menyelesaikan pendidikan doktor di usia belum genap 30.


Keduanya adalah Asep Abdul Aziz dan Nurti Budiyanti. Asep adalah mahasiswa Ilmu Pendidikan Islam angkatan 2019 menempuh pendidikan Stata-3 dan lulus di usia 29 tahun.

Sedangkan Nurti Budiyanti menyelesaikan pendidikannya di usia 28 tahun.

Pasangan muda ini telah bekerja keras untuk meraih cita-citanya dalam menyelesaikan studinya. Tahap demi tahap telah mereka lewati, mulai dari perkuliahaan, pengajuan judul, ujian proposal, ujian Toefl dan Toafl, ujian komprehensif, ujian progress dan ujian tertutup telah dilalui dan dilaksanakan dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab oleh kedua pasangan doktor muda ini.

Selama proses bimbingan, mereka senantiasa melakukan konsultasi secara intensif kepada promotor, mulai dari ketua promotor dan kedua anggot apromotor, bahkan sampai akhir perbaikan pasca ujian tertutup masih dilakukan diskusi-diskusi penyempurnaan naskah disertasi.

Mereka senantiasa mendengarkan dan menerima berbagai kritikan dan saran dari ketua maupun anggota promoter secara argumentatif, sehingga pada akhirnya disertasi dapat diselesaikan dengan baik.

Berdasarkan hasil uji Promovendus pada hari Kamis (21/7), Asep Abdul Aziz meraih hasil nilai komulatif 3,87 dengan pridikat Coumlaude. Begitu pun dengan sang istri, yang memperoleh hasil yang sama yakni nilai komulatif 3,87 dengan pridikat Coumlaude.

Pasangan suami istri ini telah melewati ujian promosi doktor di hari yang sama, dengan mendapat nilai yang sama.

"Tak pernah terbayangkan dalam pikiran kami jika memiliki nilai yang sama di hari yang sama dengan penguji dan promoter yang berbeda, namun inilah ketetapan Allah yang Maha Rahman dan Rahim," ucap Asep dalam keterangannya, Senin (25/7).

Asep pun berharap, kisah atau perjuangannya ini bisa menjadi inspirasi bagi setiap mahasiswa atauppun para calon mahasiswa diluar sana.

"Bahwa tidak ada yang tidak mungkin, jika Allah sudah menghendakinya, kunci kesuksesan lahir dari tekad yang kuat yang diiringi dengan ikhtiar yang maksimal," tandasnya.