Jabar Dapat 100 Ribu Floacked Swab Buatan Universitas Indonesia

Floacked Swab buatan UI/Ist
Floacked Swab buatan UI/Ist

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendapat 100.000 flocked swab HS-19 hasil karya Universitas Indonesia (UI). Floacked swab sendiri menunjang percepatan swab test dalam mendeteksi virus Covis-19. 


Untuk diketahui, locked swab HS-19 merupakan alat bantu untuk uji usap untuk mengambil cairan hidung tenggorok. Bentuknya seperti korek kuping tapi dengan ukuran lebih panjang. Dari cairan yang diambil itulah petugas laboratorium bisa mendeteksi virus Covid-19 melalui metde PCR (Polymerase Chain Reaction). 

"Flocked swab yang diterima Jawa Barat sebanyak 100.000. Hari Senin (26/10) akan diambil dan akan disimpan di Gudang Logistik Satgas Jabar. Nantinya akan didistribusikan ke RS dan puskemas di kab/kota,” ucap Ketua Divisi Kerja Sama, Logistik, Bantuan Sosial (KLBS) pada Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Daerah Jawa Barat, Arifin M. Soendjaya, Minggu (25/10). 

Menurutnya, dengan tambahan floacked swab uji usap warga lebih cepat sehingga mudah memetakan penyebaran virus maupun penanganan pasien Covid-19 di Jabar. 

"Kepastian hasil swab menentukan langkah selanjutnya dalam penatalaksanaan klinis. Semakin cepat tata kelola klinisnya maka akan semakin cepat tracing sehingga mencegah penyebaran Covid-19, meningkatkan angka kesembuhan, dan menurunkan angka kematian," katanya. 

Arifin mengatakan, Pemprov Jabar mengapresiasi bantuan alat ini karena murni merupakan karya inovatif dalam negeri. Kandungan komponen flocked swab ini hampir 100 persen produk lokal Indonesia. 

"Ini sesuai dengan lima prinsip penanggulangan Covid-19 di Jabar yakni proaktif, ilmiah, transparan, inovatif, dan kolaboratif," ungkapnya.

Ia menyebut, bantuan dari UI ini sejalan dengan semangat Jabar dalam perang melawan Covid-19 yakni mengutamakan kemandirian dan menghargai upaya-upaya sendiri yang tidak mengandalkan bantuan luar negeri. 

"Pemprov Jabar bangga ada universitas di Depok, Jabar berhasil memproduksi alat medis yang penting. Flocked swab buatan dalam negeri berangkat dari kelangkaan alat ini dalam upaya 3T (tracing, testing, treatment)," katanya.

Menurutntya, WHO merekomendasikan semua negara melakukan 3T dengan metode PCR karena hasilnya lebih akurat dibandingkan rapid test (RDT). Jabar kini sudah mulai meninggalkan rapid test dan intens dengan uji usap. 

Saat ini kapasitas uji usap Jabar 514.638 sementara RDT 363.033 (Pikobar, 24/10/2020). Uji usap Jabar telah melebihi standar WHO yakni 1 persen dari populasi. Diasumsikan jumlah penduduk Jabar 50.000.000 (saat ini masih Sensus Penduduk 2020), maka tes PCR yang harus dilakukan sesuai standar WHO adalah 500.000.  

Dalam memproduksi alat ini, UI membentuk konsorsium yang terdiri dari Research Center for Biomedical Engineering (RCBE) Fakultas Teknik UI (FTUI) dan peneliti dari Fakultas Kedokteran UI (FKUI). 

Beberapa mitra industri UI juga berpartisipasi seperti Dynapack Asia Pte Ltd, PT Chandra Asri TbK, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, PT Ingress Malindo Ventures, PT Toyota Auto Body-Tokai Extrusion, PT Sri Tita Medika, PT Langgeng Jaya Fiberindo, dan PT Indachi Prima. 

Flocked swab HS-19 pertama dibuat Mei 2020 dan terus mengalami penyempurnaan baik dari sisi produksi dan proses kerja. Flocked swab made in Indonesia HS-19 ini telah diproduksi setelah melalui tahapan riset dan pengujian dari Laboratorium Mikrobiologi FKUI, untuk memastikan produk telah aman digunakan bagi tenaga kesehatan maupun pasien.

“FTUI juga telah menyiapkan berbagai sarana pendukung yang berada di Gedung Integrated Creative Engineering Learning Lab (i-CELL) untuk mempercepat proses purwarupa dan pengujian produk swab stick untuk komersialisasi,” kata Dekan FTUI, Dr. Hendri.