Jabar Proyeksikan Serap 3 Juta Tenaga Kerja Hingga 2023

Kepala Disnakertrans Jabar, Rachmat Taufik Garsadi (pertama kiri)/Istimewa
Kepala Disnakertrans Jabar, Rachmat Taufik Garsadi (pertama kiri)/Istimewa

Sebanyak tiga juta pengangguran di Jawa Barat diproyeksikan mendapat lapangan pekerjaan hingga 2023. Jumlah pengangguran itu dianggap bertambah signifikan akibat pandemi Covid-19.


Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jabar, Rachmat Taufik Garsadi mengatakan, pihaknya optimistis 2023 masalah pengangguran tertangani karena pemulihan pandemi Covid-19 terus berlangsung.

"Kalau dunia usaha kita pulih, dua tahun ini sudah pemulihan sampai 2023 selesai. Tapi tidak seperti yang lalu, perusahaan pulih yang direkrut dari luar, tetap saja pengangguran," ucap Taufik, di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (9/4).

Untuk mengatasi masalah pengangguran itu, kata Taufik, pihaknya membuka situs jabarjawara.id yang memberikan lowongan pekerjaan dari seluruh perusahaan di Jawa Barat kepada calon tenaga kerja. 

Selain menyediakan informasi lowongan kerja, portal dalam jaringan (online) tersebut diharapkan bisa menghimpun berbagai data yang diperlukan terkait industri dan ketenagakerjaan.

"Tiga juta pengangguran diproyeksikan mendapat hak pekerjaan melalui situs tersebut. Dalam portal ini juga lowongan perkerjaan dari seluruh perusahaan di Jabar dapat diakses para peminat," katanya.

Selain itu, para peminat inipun bisa mengikuti tes minat dan bakat di portal tersebut untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja. Menurutnya, terdapat 80 ribu perusahaan yang bermitra dalam program ini.

Taufik mengaku akan terus menambah perusahaan untuk memperluas pasar lapangan kerja.

"Berharap seluruh perusahaan masuk ke sana, ini menjadi hal yang sangat krusial, penambahan ini bergerak terus. Semakin lama perusahaan semakin sadar. Selama ini, data itu baru sebagian, ini sangat vital," tuturnya. 

Dirinya berharap, portal dalam jaringan (online) ini pun bisa menghimpun berbagai data yang diperlukan terkait industri dan ketenagakerjaan. Selama ini, pihaknya kesulitan untuk menghimpun data ketenagakerjaan.

"Selama ini data kita hanya baru sebagian, jadi data penganggur yang baru itu hanya berdasarkan data BPS, 2,53 juta. By name by addres baru 80 ribu yang dirumahkan, 18 ribu yang di-PHK," katanya.

Menurutnya, sulitnya menghimpun data ini dikarenakan setiap pihak memegang datanya secara masing-masing.

"Perguruan tinggi, dinas pendidikan, mereka memegang data sendiri-sendiri. Demikian juga perusahaan, pegang data sendiri-sendiri," imbuhnya. 

Padahal, kata Taufik, secara aturan setiap perusahaan wajib menginformasikan kepada pemerintah terkait penerimaan dan pemberhentian tenaga kerja.

"Setiap perusahaan, kalau merekrut tenaga kerja, harus disampaikan ke pemerintah," ujarnya.

Adanya data yang terhimpun ini akan memudahkan dalam berbagai hal terutama dalam mengambil kebijakan. Sebagai contoh, perusahaan akan lebih mudah mencari tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan.

Begitu pun bagi masyarakat, mereka akan mengetahui lowongan kerja yang sesuai dengan keahliannya. Oleh karena itu, melalui jabarjawara.id yang dibangun hasil kerja sama dengan Top Karir Indonesia, perusahaan yang menginformasikan lowongan kerja, dia berharap bisa menghimpun data yang lengkap dan akurat terkait ketenagakerjaan.

"Kalau kita punya big data, apapun bisa dilakukan. Sharing data ini yang bisa dilakukan," katanya.

Nantinya, portal jabarjawara.id akan memuat sejumlah data baik yang diperlukan perusahaan untuk mencari tenaga kerja maupun bagi masyarakat yang akan mencari kerja.