Keanekaragaman Hayati Dan Budaya Jadi Modal Penting Pembangunan Berkelanjutan

Ilustrasi pembangunan berkelanjutan/Net
Ilustrasi pembangunan berkelanjutan/Net

Keanekaragaman budaya dan keanekaragaman hayati yang menjadi basis dari pengetahuan lokal merupakan modal penting pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Keanekaragaman yang dimiliki Indonesia ini akan sangat menguntungkan jika dapat dioptimalkan.


Hal itu dikatakan Guru Besar Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Johan Iskandar.

"Indonesia itu sesungguhnya luar biasa dianugerahi Tuhan dengan aneka ragam hayati yang tinggi termasuk keanekaragaman etniknya dengan dicerminkan dengan bahasa-bahasa lokalnya," kata Prof. Johan.

Menurut Prof. Johan, saat ini telah banyak dilakukan kajian dari berbagai disiplin ilmu berbasis pengetahuan masyarakat lokal, seperti etnobiologi, etnoekologi, etnobotani, dan lain-lain. Selain untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan publikasi penelitian, kajian ini juga dapat menopang pembangunan berkelanjutan.

"Harapannya, hasil praktisnya untuk membantu program pembangunan berkelanjutan,” ujar Prof. Johan seperti dilansir laman Unpad.

Salah satu contoh, penemuan obat baru dapat dilakukan dengan mengkaji dari pengetahuan lokal penduduk yang sudah dipraktikkan turun temurun. Pengetahuan lokal tersebut, jika dikaji lebih lanjut dan dikombinasikan dengan pengetahuan modern, dapat dihasilkan penemuan baru untuk menopang pembangunan berkelanjutan.

Menurut Prof.  Johan, kajian etnobiologi dan etnoekologi tidak mengkaji aspek biologi dan sosial secara parsial, tetapi menjadi kajian yang holistik bersifat multi atau transdisiplin. Dengan demikian kajian tidak dapat dilakukan secara monodisiplin.

"Hasil kajian itu mungkin untuk hilirisasinya masih perlu dilanjutkan dengan banyak berkolaborasi dengan berbagai bidang ilmu. Harapannya, berbagai pengetahuan dan pengelolaan lokal juga harus dihibridkan atau dikombinasikan dengan pengetahuan barat sehingga sangat berguna untuk pembangunan berkelanjutan yang sekarang sifatnya memperhatikan masyarakat bukan saja bersifat top down,” ujarnya.