Kelirumologi Dewan Perwakilan Rakyat

PADA saat naskah sederhana yang dimuat RMOL ini saya tulis, para putra-putri terbaik bangsa Indonesia sedang sibuk mempersiapkan diri untuk memperebutkan suara rakyat demi menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat sesuai makna adiluhur yang terkandung di dalam sila ke empat Pancasila yaitu "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan".


Tidak Sempurna

Sebagai warga negara Indonesia yang setia kepada Pancasila, saya pribadi mensyukuri kehadiran lembaga tertinggi Republik Indonesia yang disebut sebagai Dewan Perwakilan Rakyat.

Namun sebagai pendiri Pusat Studi Kelirumologi, saya menyadari bahwa manusia mustahil sempurna sementara DPR merupakan sebuah lembaga yang didirikan oleh manusia. Akibat manusia mustahil sempurna maka lembaga yang didirikan oleh manusia mustahil sempurna serta merta dengan sendirinya juga mustahil sempurna. Akibat lembaga mustahil sempurna berarti DPR juga mustahil sempurna.

Berdasar hasil telaah kelirumologis terhadap DPR, dapat disimpulkan bahwa beberapa ketidak-sempurnaan memang  hadir terutama pada upaya penghayatan mau pun pengejawantahan sukma adiluhur yang terkandung di dalam Dewan Perwakilan Rakyat menjadi kenyataan.

Parpol

Misalnya pada kenyataan, Dewan Perwakilan Rakyat kerap kali terkesan lebih berfungsi sebagai Dewan Perwakilan Parpol.

Akibat yang terhormat para anggota DPR pada kenyataan memang dicalonkan oleh partai politik tertentu maka secara sadar atau tak sadar lebih berfungsi sebagai wakil partai politik ketimbang wakil rakyat. Para wakil rakyat lebih berpihak kepada parpol ketimbang rakyat.

Keberpihakan yang mewajar akibat memang pada realita sistem politik kekuasaan, parpol lebih berkuasa ketimbang rakyat untuk memecat para kader yang bertahta di singgasana kekuasaan DPR.

Maka sebenarnya DPP sebagai akronim Dewan Perwakilan Parpol lebih sesuai kenyataan ketimbang Dewan Perwakilan Rakyat. Atau apabila sebutan akronim DPR ingin dipertahankan, maknanya lebih mendekati kenyataan apabila kata "Perwakilan" diganti "Pilihan" sehingga Dewan Perwakilan Rakyat menjadi Dewan Pilihan Rakyat.

Solusi

Namun solusi yang ditawarkan Pusat Studi Kelirumologi untuk meluruskan kekeliruan penghayataan dan pengejawantahan makna adiluhur yang terkandung di dalam DPR  bukan mengganti istilah namun membina para calon anggota DPR agar apabila telah terpilih oleh rakyat untuk mewakili kepentingan rakyat akan lebih mengutamakan kesetiaan dan keberpihakan kepada rakyat ketimbang parpol.

Dan rakyat Indonesia layak bersyukur bahwa sebenarnya telah dihadirkan sebuah lembaga untuk membina para calon anggota DPR yaitu Lembaga Ketahanan Nasional. [***]

Penulis: Jaya Suprana, rakyat Indonesia yang mendambakan para wakil rakyat yang benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat.