Kelirumologi Pemikiran Manusia

Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net

SATU di antara sekian banyak kesimpulan yang bisa ditarik dari hasil penelahaan yang dilakukan Pusat Studi Kelirumologi sebagai cikal-bakal Pusat Studi Logi-Logi adalah tidak ada manusia yang sempurna.

Mustahil Sempurna

Dari kesimpulan tidak ada manusia yang sempurna dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kekeliruan. Termasuk manusia yang dianggap manusia super juga mustahil tidak pernah melakukan kekeliruan.

Maka Aristoteles memang cendekia dan bijak dalam berfilsafat namun ternyata sang cantrik Plato ini juga pernah melakukan kekeliruan semisal dalam meyakini bahwa mahluk hidup bisa hidup secara spontan.

Aristoteles juga keliru dalam meyakini bahwa benda lebih berat jatuh lebih cepat ketimbang benda lebih ringan yang kemudian dikoreksi oleh Galileo Galilei dengan dampak dicekal oleh penguasa gereja pada masanya.

Kredibilitas saintifikal mahafisikawan Irlandia yang melahirkan hukum ke dua thermodinamika, Lord Kelvin tidak perlu diragukan lagi namun ternyata sempat juga keliru dalam menghitung usia planet bumi.

Linus Pauling menerima anugrah Nobel bukan cuma sekali namun dua kali bagi dua bidang saling beda juga sempat keliru dalam menyusun model struktur DNA akibat terburu-buru mengejar waktu jangan sampai keduluan orang lain.

Bagi saya pemikir paling jujur adalah Bertrand Russel yang tidak pernah malu bukan saya mengakui kekeliruan pemikiran dirinya sendiri namun bahkan juga mengkoreksinya. Charles Darwin sempat kewalahan sehingga tidak berani maka tidak mampu atau tidak mau melawan serangan-serangan dahsyat terhadap teori evolusi yang dikembangkan secara terpisah dari pemikiran George Wallace.

Sampai akhirnya secara terpisah pula teori evolusi Darwin dibenarkan oleh penelitian Gregor Mendel terhadap genetika yang menjelaskan kebenaran teori seleksi.

Meski pemikiran Gregor Mendel juga tidak sempurna benar karena sang Bapak Ilmu Genektika merangkap Romo ordo Agustinian ini bukan Tuhan.

Sementara slogan utama Charles Darwin tentang survival of the fittest kerap keliru ditafsirkan bahwa para pemenang kompetisi seleksi alam untuk mampu bertahan hidup ditentukan oleh kekuatan padahal kemampuan adapsi diri terhadap lingkungan.

Pengakuan

Sama halnya dengan keliru menafsirkan Christophorus Columbus berlayar ke arah Barat Eropa demi membuktikan bahwa planet bumi berbentuk bundar padahal pada masa abad XV masyarakat awam pun sudah menyadari bahwa bentuk bumi adalah bundar.

Namun memang Columbus keliru dalam memperhitungkan jarak ke India melalui jalur pelayaran ke Barat adalah lebih dekat ketimbang ke Timur.

Maka Columbus keliru meyakini dirinya sudah mendarat di India padahal baru tiba di kawasan Karibea. Kisah menarik tentang Columbus mendirikan telur ayam demi membuktikan bahwa dunia bundar jelas keliru sebab sebenarnya Columbus sekedar membuktikan bahwa manusia mudah menyatakan diri bisa padahal belum tentu bisa.

Astrofisikawan Fred Hoyle tidak pernah percaya pada teori Black Holes sementara sang mahafisikawan paling legendaris, Albert Einstein berspekulasi keliru tentang sesuatu mahaenerji atau entah apa menjaga ekuilibrium alam semesta meski kemudian spekulasi kurang benar Einstein itu membuka gerbang ke loncatan-loncatan semesta ilmu pengetahuan luar biasa dahsyat sehingga tidak kurang dari sang mahamatematikawan sebagai pengganti Charles Dawkins mengetuai departemen prestisius Symonyl Chair for Public Understanding Universitas Oxdord, Prof. Marcus du Sautoy perkasa menulis buku berjudul What We Cannot Know dengan eksplisit tegas menggunakan kata “cannot”.

Maka dengan bangga saya tidak mau ketinggalan napak-tilas kesuriteladanan budi-pekerti Bertrand Russel untuk jujur mempersembahkan sebuah pengakuan jujur dan tulus bahwa mustahil semustahil-mustahilnya mustahil bahwa naskah tulisan saya yang sedang anda baca mampu bebas dari kekeliruan.