Kelola Konservasi Taman Nasional, Tenaga Ahli KLHK Sarankan Model Begini

Ilustrasi Taman Nasional/Net
Ilustrasi Taman Nasional/Net

Kolaborasi dari berbagai pihak dibutuhkan dalam pengelolaan taman nasional. Partisipasi masyarakat menjadi penting, terlebih bagi mereka yang tinggal dekat atau di dalam lingkungan taman nasional.


Begitu disampaikan Tenaga Ahli Menteri Bidang Restorasi dan Kemitraan Konservasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI, Wiratno dalam disertasi berjudul “Model Adaptive Collaborative Management pada Tata Kelola Konservasi Ekosistem Sumber Daya Alam Hutan di Taman Nasional Secara Berkelanjutan: Refleksi dan Transformasi”.

Dalam disertasinya itu, Wiratno menemukan bahwa penerapan model Adaptive Collaborative Management pada tata kelola konservasi ekosistem sumber daya alam hutan di sejumlah taman nasional terbukti mempunyai hasil yang baik.

Taman hutan yang termasuk dalam penelitiannya yaitu TN Gunung Leuser, TN Bukit Duabelas, serta TN Lore Lindu.

Menurut Wiratno, partisipasi masyarakat adalah keniscayaan dan bisa disimpulkan sebagai core issue, dalam pengelolaan taman-taman nasional di Indonesia.

“Kami kira ini pondasi untuk mengurus hutan Indonesia harus melibatkan unsur masyarakat,” ujar Wiratno saat mempertahankan disertasinya dalam Sidang Promosi Doktor yang digelar di Ruang Sidang Pascasarjana Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35 Bandung, belum lama ini.

Dalam paparanya, mantan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian LHK itu juga menekankan pentingnya perananan akademisi dalam pengelolaan kawasan konservasi berbasis sains. Akademisi diperlukan untuk bisa turun langsung di lapangan membantu masyarakat, bukan hanya sekadar teori.

“Peranan perguruan tinggi tetap sangat penting dan relevan dalam pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia,” kata Wiratno seperti dimuat laman Unpad.

Adapun tujuan penelitian yang dilakukan Wiratno tersebut adalah mendeskripsikan pencapaian sistem pengelolaan kawasan konservasi yang menerapkan prinsip adaptive collaborative management di tiga taman nasional di Indonesia yang memiliki karakteristik persoalan yang berbeda. Penelitian juga mendeskripsikan adanya keberlanjutan dari sistem tersebut.

“Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara akurat capaian sistem pengelolaan kawasan konservasi yang menerapkan prinsip adaptive collaborative management di tiga taman nasional,” tandas Wiratno.