Kerusuhan Masih Meletus, Iran Kambinghitamkan Amerika

Kerusuhan yang meletus di Iran/Net
Kerusuhan yang meletus di Iran/Net

Bola liar kerusuhan besar di Iran akibat aksi protes menggelinding ke pihak Amerika Serikat. Negeri Paman Syam ini dituding di balik aksi yang telah berjalan hampir satu minggu belum ada tanda-tanda mereda.


Menteri Dalam Negeri Iran, Ahmad Wahidi sebelumnya menuding beberapa kelompok Kurdi terlibat dalam protes anti-pemerintah di Iran dan ada pengiriman senjata ke pengunjuk rasa di wilayah Kurdi.

Selain itu, Kementerian Luar Negeri Iran menilai Amerika tengah berupaya melanggar kedaulatan Iran atas masalah protes yang sedang berlangsung. Kementerian berjanji untuk menanggapi upaya AS itu, seperti dilaporkan oleh Reuters.

"Washington selalu berusaha melemahkan stabilitas serta keamanan Iran meskipun tidak berhasil," ujar Juru Bicara Kemenlu Iran, Nasser Kanaani, menambahkan bahwa AS lagi-lagi berusaha mengacaukan Republik Islam.

Iran sudah diguncang oleh demonstrasi nasional yang dipicu oleh kematian wanita Kurdi berusia 22 tahun Mahsa Amini, usai dia ditahan oleh polisi moral yang menegakkan pembatasan Republik Islam pada pakaian wanita. Ini merupakan protes terbesar sejak 2019 dengan banyak orang yang tewas serta ribuan lainnya ditangkap.

Dilansir Kantor Berita Politik RMOL, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri, Josep Borrell mengutuk kekerasan yang terjadi di Iran.  Dia mengatakan, penggunaan kekuatan yang meluas dan tidak proporsional terhadap pengunjuk rasa tidak bisa dibenarkan dan tidak dapat diterima.

Di halaman Instagram-nya, Kanaani menuduh para pemimpin Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa menyalahgunakan insiden tragis untuk mendukung "perusuh".