Ketimbang Perbaikan Kerja, Komposisi Reshuffle Lebih Kental Unsur Akomodasi Politik

Pelantikan 2 menteri dan 3 wakil menteri baru oleh Presiden Joko Widodo, Rabu (15/6)/Setkab
Pelantikan 2 menteri dan 3 wakil menteri baru oleh Presiden Joko Widodo, Rabu (15/6)/Setkab

Direktur Visi Indonesia Strategis, Abdul Hamid menilai komposisi reshuffle Kabinet Indonesia Maju yang baru lebih kental unsur akomodasi politik ketimbang spirit perbaikan kerja.


Padahal menurutnya, ekspektasi publik terhadap reshuffle adalah agar kerja-kerja menteri tidak hanya dikerjakan segelintir orang.

"Komposisi reshuffle ini saya kira memang lebih kental unsur akomodasi politiknya ketimbang spirit perbaikan kinerja," ujarnya sebagaimana diwartakan, Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (16/6).

Cak Hamid sapaannya menyebut, ekspektasi publik terhadap reshuffle sebenarnya sangat besar terkait perbaikan-perbaikan kinerja kabinet agar lebih akseleratif pasca berakhirnya pandemi.

"Tidak saja memberesi persoalan minyak goreng, tapi lebih pada soal bagaimana kabinet yang gemuk tapi hanya dikerjakan oleh segelintir orang, wabil khusus hanya dikerjakan oleh Luhut," kata Cak Hamid.

Bukan tanpa sebab, Cak Hamid menyebut, selama ini publik dipertontonkan dengan semua persoalan diurus Luhut Binsar Pandjaitan.

"Jokowi ingin mengatakan bahwa beliau tidak percaya pada menteri-menteri tersebut? Pertanyaannya kemudian, mengapa para pembantu yang tidak bekerja dan tidak dipercaya itu dibiarkan saja bukan direshuffle?" kata dia.

"Saya sih agak pesimis reshuffle kali ini akan banyak membawa perubahan kinerja, termasuk misal bisa memberesi persoalan minyak goreng dalam waktu cepat," pungkasnya.