KTT APEC Hambar Tanpa Kehadiran Rusia Dan Amerika

KTT APEC di Bangkok/Net
KTT APEC di Bangkok/Net

FORUM Ekonomi Asia Pasifik (APEC), diinisiasi oleh Perdana Menteri Australia Bob Hawke pada tahun 1989 untuk mengorganisasi kawasan ekonomi Asia Pasifik sebagai wilayah area perdagangan bebas dan investasi.

APEC terlahir dalam pertemuan 12 Menteri negara Asia Pasifik 6-7 November 1989 di Canberra Australia. 

Proses berdirinya APEC dipicu oleh misi besar dalam membentuk kawasan perdagangan regional di wilayah Asia-Pasifik. Forum APEC dibentuk dengan misi mereduksi hambatan investasi global antar negara.     

Saat ini APEC terdiri dari 21 Negara maju dan berkembang dimana organisasi multilateral ini menguasai 60 persen GDP dunia, mewakili 3 milyar penduduk dan mengontrol separuh perputaran keuangan global. Anggota APEC terdiri dari para pemimpin dunia dan Pebisnis Global.

Agenda APEC Bangkok

Pertemuan APEC Bangkok Thailand, 18-19 November 2022, dilakukan pertama kali sejak dunia dilanda pandemi covid-19.

Isu utama yang dibicarakan oleh 21 negara tergabung dalam APEC, yakni dampak ekonomi akibat perang Rusia dan Ukraina, isu inflasi keuangan dunia, perubahan iklim, isu kelangkaan pangan dan energi dan skema penanggulangan dampak Covid-19.

Putin Bolos di APEC

Rusia kembali tidak hadir dalam pertemuan APEC. Vladimir Putin menolak undangan untuk menghadiri APEC Summits Meeting. Alasannya ketidakhadiran Putin disebabkan urusan internal isu politik berkaitan peperangan dengan Ukraina.

Rusia salah satu anggota APEC menyatakan ketidakhadiran dalam acara KTT APEC Bangkok. Presiden Rusia Vladimir Putin tidak hadir dalam KTT G20 Bali 15-16, November dengan alasan hampir sama yakni sibuk dengan urusan perang.

Putin tidak menginginkan Rusia sebagai pihak yang diperlakukan salah dan dipermalukan sebagai penjahat perang dan melanggar kedaulatan negara lain yang jelas menyalahi hukum internasional. 

Dalam KTT G20 berakhir ketidakjelasan arah perdamian Rusia-Ukraina. Peserta delegasi KTT G20 tidak menghasilkan deklarasi bulat untuk mengutuk Rusia atas agresi militer ke Ukraina. KTT G20 dianggap pertemuan tinggi yang sangat alot untuk mencairkan ketegangan konflik di Balkan.

Biden Menyusul Absen

Berbeda dengan KTT G20 Bali, kali ini Presiden Amerika tidak menghadiri pertemuan APEC Bangkok. Biden ada dalam bayang-bayang tekanan dalam negeri oleh kemenangan Pemilu DPR Amerika oleh Partai Republik.

Joe Biden berasal dari Partai Demokrat, sadar jika dirinya akan memberikan isyarat penolakan pembicaraan terlalu jauh urusan politik regional menyangkut isu Taiwan-China dan juga pembahasan isu perdamian Rusia-Ukraina.

Dalam KTT G20, Joe Biden memastikan kepada Presiden Xi Jinping, Amerika hanya memberikan dukungan perlindungan militer Taiwan, bukan mengakui Taiwan sebagai negara terpisah dari China. 

Tentunya hasil pertemuan bilateral tersebut sudah cukup meyakinkan proses penurunan ketegangan hubungan China-Amerika. Pertemuan bilateral tersebut disebut sebagai peristiwa monumental karena merupakan pertemuan kali pertama sejak Joe Biden menjabat Presiden  Amerika.  

Ketegangan Amerika dan China

Presiden Amerika berjanji tidak ada lagi perang dingin baru dengan China. Hasil kesepakatan tersebut juga berdampak positif bagi keamanan regional di Kawasan Asia Pasifik.

Bagi Taiwan komitmen Amerika untuk tetap memberikan dukungan militer disambut gembira dan Taiwan sedikit menurunkan kecemasan atas ancaman agresi militer China ke Taiwan.

Mimpi buruk Taiwan tidak terjadi, apa yang sedang terjadi di Ukraina sementara ditanggalkan oleh China. Taiwan adakah sebuah kepulauan yang diklaim China sebagai kepulauan yang membangkang dengan membentuk pemerintahan dan mempunyai presiden sendiri. 

Politik Standar Ganda Amerika

Hubungan China dan Amerika berada dalam titik level terendah ketika Amerika di bawah Presiden Donald Trump berkaitan isu-isu sangat mendasar yakni perseteruan perdagangan, kompetisi teknologi dan isu kepentingan geopolitik dan tabrakan ideologi.

Amerika menerapkan kebijakan politik terhadap Taiwan. Melakukan politik standar ganda. Di satu sisi AS bersikap mengakui kebijakan landasan hubungan AS dan China  adalah kebijakan Satu China, mengakui satu pemerintahan China dan AS tidak memiliki hubungan formal dengan Taiwan.

Ambigu politik luar negeri Amerika berkaitan komitmen AS  membela Taiwan, menyediakan sarana senjatanya untuk mempertahankan diri Taiwan dari serangan Asing.   

Relasi China, Amerika dan Rusia

Volatilitas hubungan diplomatik ketiga negara Super Power antara Rusia, Amerika dan China sedang terjadi  pasang surut. Amerika dan China dalam pertemuan Bilateral di KTT G20 Bali sepakat menurunkan ketegangan-ketegangan dengan menghilangkan Perang Dingin.

Sementara Hubungan Rusia dan Amerika tidak simetris dengan pencapaian hubungan Amerika-China. Tiga negara tersebut justru dalam relasi hubungan Asimetris.

Permainan China dan Amerika berada dalam permainan non zero sum-game atau win-win solutions, sementara hubungan Rusia dan Amerika terus berada dalam permainan zero-sum dimana satu pihak menawarkan dan menyebabkan kekalahan dan memberikan hadiah kemenangan di pihak lawan.

Kondisi Amerika atau Rusia miliki kemungkinan keuntungan atau kerugian dalam suatu permainan dalam hubungan reprositas. Keuntungan yang dimiliki Amerika berasal dari kerugian Rusia dan sebaliknya.    

Contoh bagaimana 3 negara Amerika, China dan Rusia berpandangan serta sikap terhadap perang Rusia dengan  Ukraina.  Bagi Amerika, China dianggap salah satu negara yang menolak melakukan aksi boikot ekonomi dan mengutuk Rusia atas agresi Ke Ukraina.

Hubungan China Dan Rusia sangat mendasar dan intim. Seminggu sebelum Rusia menggelar agresi ke Ukraina, dua negara tersebut menyatakan melakukan hubungan pertemanan tanpa batas (No Limit Friendship).

APEC dan Rusia

Presiden China Xi Jinpin menjadi bintang di KTT APEC Bangkok. Presiden China Xi Jinping berhasil mendominasi Isu dalam KTT G20 Bali bersama Presiden Amerika Joe Biden. Keselamatan damai China dan Amerika berhasil menyingkirkan agenda utama yakni proses perdamian Rusia-Ukraina.

Rusia tetap konsisten menolak dan tidak tertarik dalam dua agenda pertemuan tinggi (KTT). Rusia berhasil menang atas tekanan asing yang dimotori Amerika untuk mematuhi dan menuruti segala bentuk draf proposal perdamian.

Rusia mematok harga mati bagi proses perdamian yang diajukan oleh negara Barat. Ketidakhadiran Vladimir Putin dalam Agenda KTT G20 Bali dan KTT APEC Bangkok menjadi bukti keras Rusia tidak mengambil posisi untung dari kedua agenda tersebut. Pihak Rusia mengklaim tidak ada yang urgent dan mendasar.

Kesimpulan

Forum APEC kembali gagal memfasilitasi kembali proses perdamian krisis Rusia-Ukraina. Keputusan Forum APEC akan mengalami kesulitan pendalaman materi dikarenakan Rusia sebagai sumber malapetaka multi krisis justru tidak bisa berdialog dalam satu meja. Isu krusial pembahasan efek dan dampak perang terhadap pangan dan energi tidak dapat diurai secara komprehensif.

Forum APEC kali ini hanya menguntungkan China. Hadir tunggal mewakili negara Super Power menjadi keuntungan China. Negara tirai bambu ini dengan sangat leluasa menyebarkan pengaruh usulan dan gagasannya di Forum APEC Tanpa Veto Rusia dan Amerika. China  betul-betul menguasai, sudah menjadi bintang dan menjadi pemenang dalam Forum APEC Bangkok.

Sementara Amerika dalam Forum APEC berada dalam sikap datar. Amerika merasa tidak banyak kepentingan untuk hadir. Perundingan Amerika dan China di pertemuan bilateral bisela sela KTTG20 Bali sudah berhasil meredakan ketegangan kawasan Asia Pasifik.

Amerika tidak hadir karena sudah paham Rusia juga menawarkan harga mati dalam KTT APEC Bangkok. Proses perdamian yang melibatkan aktor utama Rusia  menjadi buntu. Amerika mengambil sikap tidak hadir sebagai bentuk perlawanan pasif ketidakhadiran Rusia.

Jika Amerika-China meniadakan Perang Dingin, sementara Rusia dan Amerika dalam Posisi Perang Terbuka.

Penulis adalah Ketua DPD PAN Kabupaten Cirebon dan Ketua Relawan Ganjar Pranowo 2024