Kuliah Daring Efektif, Unpar Nilai Belum Ada Urgensi Perguruan Tinggi Menggelar PTM Terbatas

Rektor Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Mangadar Situmorang Ph.D./Istimewa
Rektor Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Mangadar Situmorang Ph.D./Istimewa

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas sudah mulai digelar di berbagai daerah salah satunya di Kota Bandung. Lembaga pendidikan atau sekolah menggelar PTM dengan syarat vaksinasi dan prokes yang sangat ketat.


Namun, bagi perguruan tinggi, PTM Terbatas bukanlah hal yang sangat mendesak. Karena ketersediaan teknologi dan kemandirian mahasiswa untuk masih melakukan pembelajaran daring tidaklah menjadi persoalan.

Hal itu dikatakan Rektor Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Mangadar Situmorang Ph.D. saat ditemui di Kampus Unpar Kota Bandung, Rabu (8/9).

Mangadar menguarai, meski ribuan mahasiswa dan dosen Unpar sudah melakukan proses vaksinasi. Namun ada tiga hal yang membuat Unpar masih belum melakukan PTM Terbatas.

"Tapi untuk proses vaksinasi, sebanyak 11 ribu mahasiswa kita yang sudah tervaksinasi dua kali itu lima ribuan dan dosen Unpar sudah semua," kata Mangadar.

Namun lanjut dia, ada tiga hal yang membuat perguruan tinggi tidak ada kemendesakan atau urgensi untuk menggelar PTM Terbatas. Yang pertama, yaitu letak geografis atau zonasi mahasiswa yang bukan hanya berada di Kota Bandung, tetapi di berbagai daerah Indonesia.

"Kalau sekolah-sekolah jelas zonasinya. Misalnya SMP SMA, letak geografis dari para siswanya. Sementara mahasiswa tersebar di seluruh Indonesia. Takutnya akan menjadi klaster baru dari perguruan tinggi," jelasnya.

Yang kedua kata dia, yaitu dari sistem pembelajaran perguruan tinggi yang ketersediaan tekonologinya sangat memenuhi standar untuk menggelar kuliah secara daring. Mahasiswa akan lebih independen dan mandiri dalam setiap pembelajarannya.

"Dari sisi pembelajaran perguruan tinggi lebih luas jika daring, entah itu dari sisi kesedian teknologinnya, maupun dari sisi pembelajaran mahasiswa bisa lebih independen," jelasnya.

Faktor yang ketiga adalah soal kesehatan dari para mahasiswanya. Dirinya menilai, kesehatan mahasiswa yang berada di berbagai daerah di Indonesia harus terjamin kesehatannya, hal itu untuk mengantisipasi adanya klaster baru perguruan tinggi.

"Dari tiga pertimbangan itu saja kita tidak ada kemendesakan untuk segera tatap muka. Dari sisi letak geografis, dari sisi pembelajaran, dan sisi kesehatan. Ditambah kalau implementasi Kampus Merdeka memberikan hak belajar bagi mahasiswa program sarjana dan sarjana terapan selama tiga (3) semester di luar program studi," tegasnya.

Selain itu, adaptasi pembelajaran daring yang saat awal pandemi diakui menjadi kendala, seiring dengan waktu sudah bisa berjalan dengan optimal. Hanya saja, ada pengecualian. Untuk mahasiswa yang membutuhkan fasilitas laboratorium, maka pihak kampus mengijinkan dengan syarat dan prosedur kesehatan yang ketat.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Filsafat Unpar Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto menambahkan bahwa ada tren positif dalam pola pembelajaran daring untuk mahasiswa.

Proses pembelajaran daring memberikan kemandirian pembelajaran mahasiswa untuk mengasah keilmuannya melalui buku-buku yang dibacanya selama menjalani kuliah daring.

Meski di awal pandemi ada mahasiswa yang mengeluh karena belum adanya adaptasi dari proses kuliah daring tersebut. Sehingga ia meyakini bahwa kuliah daring untuk mahasiswa tidak menimbulkan kemorosatan prestasi atau keilmuan yang didapatkannya.

"Dari sudut proses pembelajaran yang berpusat kepada mahasiswa malah justru efektif. Ternyata memberi peluang meskipun over load karena semua mata kuliah ada tugasnya tapi terutama mereka dipaksa sendiri membaca buku nyari sendiri dari sudut itu kualitas itu baik, lebih mandiri,” pungkasnya.