Kulit Biji Kakao Melimpah, Ada Peluang Cuan Menjanjikan?

Kulit biji kakao/Net
Kulit biji kakao/Net

Kulit biji kakao sering dianggap sebagai limbah serta dibiarkan membusuk di area perkebunan kakao. Padahal, hasil penelitian para ahli menunjukan kulit biji kakao mempunyai kandungan senyawa bioaktif yang bertanggung jawab sebagai antioksidan, antitumor, antimikroba, dan aktivitas antivirus.


Guru Besar Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Mohamad Djali mengatakan, limbah kulit biji kakao yang dibiarkan membusuk bakal menyebabkan masalah lingkungan, seperti bau busuk serta sumber penyakit.

Oleh karena itu, mengingat kandungan senyawa bioaktifnya, pengolahan kulit biji kakao potensial dilakukan.

"Pemanfaatan kulit biji kakao dengan penerapan konsep zero waste dalam industri kakao ini akan memberikan nilai tambah bagi diversifikasi olahan juga sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan,” kata Prof. Djali.

Prof. Djali menjelaskan, jumlah produksi kakao Indonesia berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan) RI tahun 2021 sebesar 728.046 ton biji kering serta ekspor sebesar 28.678 ton kering.

Diperkirakan, jumlah kulit biji kakao yang dihasilkan dalam negeri tidak kurang dari 109.200 ton.

Tingginya potensi produksi limbah biomassa kulit biji kakao itu bakal menjadi prospek masa depan yang menjanjikan. Bukan sekadar bagi industri kakao, namun juga industri pangan terutama industri pangan fungsional.

Potensi tersebut menjadi salah satu penelitian Prof. Djali. Di FTIP sendiri, riset aplikasi kulit biji kakao dalam pengolahan pangan sudah dilakukan mahasiswa, di antaranya pembuatan sirup, aplikasi ekstrak kulit biji kakao dalam pembuatan es krim, aplikasi untuk penyalut keripik pisang, aplikasi sebagai bahan pengawet baso, sampai degradasi komponen lignoselulosa.

“Riset-riset tersebut menunjukkan hasil yang menggembirakan karena karakteristik asli kakao pada produk tidak hilang,” ujar Prof. Djali seperti disadur dari laman Unpad, Minggu (3/4).