Kursi Dari Limbah Plastik Solusi Kekurangan Mebeler

Daur ulang sampah plastik jadi kursi sekolah/RMOLJabar
Daur ulang sampah plastik jadi kursi sekolah/RMOLJabar

Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta terus berupaya melakukan inovasi dan mencari solusi atas persoalan pendidikan.


Melalui pendidikan karakter dengan program Tatanen di Bale Atikan, dinas yang dipimpin oleh Doktor Purwanto itu terus melakukan rekayasa pembelajaran yang kontekstual berbasis pemecahan masalah.

Salah satunya adalah memecahkan persoalan lingkungan dan sampah menjadi bermanfaat. Pemanfaatan sampah tersebut diaplikasikan melalui kegiatan pembuatan ecobrick.

Seperti yang dilakukan para pelajar di SMPN 1 Pasawahan, SMPN 2 Pasawahan dan SMPN 10 Purwakarta. Bertempat di halaman Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, pada Jumat 11 Juni 2021 ini, perwakilan ketiga sekolah tersebut mempraktikan pembuatan ecobrick berupa kursi yang berasal dari sampah plastik dan limbah pakaian.

Kadisdik Purwakarta, Doktor Purwanto mengatakan, program Tatanen di Bale Atikan itu berorientasi pada siswa, siswa harus terlibat aktif dalam pembelajaran melalui berbagai model pembelajaran. Siswa harus bisa merumuskan masalah dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

"Selama ini sekolah-sekolah belum optimal melibatkan anak dalam pembelajaran yang berbasis pada masalah-masalah hidup sehari-hari. Contoh kecil adalah bahwa sampah yang tiap hari diproduksi di dapur-dapur mereka tidak dipandang sebagai masalah sekaligus potensi yang bisa dimanfaatkan. Padahal sekolah bisa menjadikan pembelajaran lintas disiplin ilmu dan menjadikan sampah ini sebagai sumber dan media  belajar mereka," kata Kang Ipung, begitu ia kerap disapa.

Kata dia, program Tatanen di Bale Atikan itu orientasinya ke arah sana. Sangat solutif botol plastik dan sampah plastik bisa jadi ekobrcik dan dibuat kursi.

"Sehingga kita tidak usah pusing mikirin kekurangan kursi di sekolah. Saya akan minta sekolah-sekolah minimal punya satu kelas yang kursinya berasal dari ekobrick, biar hemat APBD tidak harus membeli kekurangan kursi,  dan bisa dipastikan jika ini dilakukan sampah plastik yang mencemari tanah dan air di lingkungan kita  juga bisa berkurang," Doktor Administrasi Pendidikan UPI itu.

Untuk diketahui, kini SMPN 1 Pasawahan sudah memiliki 64 buah kursi ecobrick atau setara dengan 2 kelas. SMPN 10 Purwyakarta 32 buah atau setara satu kelas sedangkan SMPN 2 Pasawahan baru menghasilkan 3 set yang terdiri dari 4 kursi 1 meja dalam satu setnya.