Lockdown Perparah Perlambatan Ekonomi Afrika Selatan

Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net

Pemulihan aktivitas perdagangan di Afrika Selatan sangat lambat. Perlambatan terlihat dari Trade Activity Index (TAI) yang disesuaikan secara musiman.


Begitu isi laporan yang dirilis Kamar Dagang dan Industri Afrika Selatan (SACCI) pada Rabu (14/10).

Sebanyak 50 persen responden mengalami kondisi yang lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya pada Agustus 2020, dan 50 persen lainnya mengalami kondisi yang kurang beruntung. Jika dibandingkan dengan September tahun lalu, sebanyak 31 persen responden yang mengalami peningkatan kondisi perdagangan.

Penguncian virus corona pada perdagangan menjadi salah satu indikasi pelambatan pemulihan.

"Penguncian yang diperpanjang semakin memberi efek merusak pada perdagangan sebagai tahap pertama ekonomi," ujar ekonom SACCI, Richard Downing, seperti dilaporkan RTL Today, Rabu (14/10).

Begitu besar dampak negatif dari lockdown, sehingga SACCI mengeluarkan catatan peringatan sebagai bagian dari laporan indeks terbaru untuk menunjukkan bahwa sejumlah responden sebelumnya benar-benar telah meninggalkan bisnis mereka.

Dikutip dari Kantor Berita Politik RMOL, ekonomi Afrika Selatan telah dirusak oleh pandemi Covid-19 dengan 2,2 juta orang kehilangan pekerjaan mereka. PDB kuartal-ke-kuartal mengalami kontraksi sebesar 16,4 persen.

Menteri Keuangan Tito Mboweni juga telah meminta agar Pernyataan Kebijakan Anggaran Jangka Menengah ditangguhkan selama seminggu hingga 28 Oktober 2020. Menurut Mboweni, defisit anggaran negara diperkirakan akan meningkat menjadi 14,6 persen dari PDB, meningkat besar dari proyeksi Februari sebesar 6,8 persen.