Matematikan Bisa Dipakai Untuk Perangi Hoaks, Ini Penjelasannya

Ilustrasi Matematika/Net
Ilustrasi Matematika/Net

Penelitian multidisipliner dan transdisipliner dibutuhkan untuk menurunkan angka kerentanan hoaks. Matematika, melalui pemodelan matematika dapat berperan dalam menjembatani berbagai penelitian tersebut.


Guru Besar Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Supriatna mengatakan, hoaks adalah keniscayaan. Berdasarkan kajian teoretis model matematika prediksi penyebaran hoaks, diketahui ada parameter yang bisa dikontrol untuk menurunkan jumlah orang yang terpapar hoaks.

"Mengingat bahwa dampak hoaks yang begitu besar dirasakan, perlu dilakukan upaya edukasi kepada berbagai pihak di masyarakat terutama generasi muda sejak dini tentang bahaya hoaks dalam rangka mengontrol nilai parameter tersebut,” ujar Prof. Asep seperti dikutip dari laman Unpad, Selasa (15/6).

Prof. Asep menilai berbagai pendekatan ilmu, termasuk kearifan lokal, diperlukan dalam edukasi untuk menumbuhkan karakter yang kuat dalam memerangi sikap mudah tertipu (gullibility) dan converse gullibility, serta menumbuhkan kemampuan yang baik dalam proses fact checking.

Prof. Asep juga menjelaskan, hoaks merupakan salah satu fenomena hidup yang dapat dianalisis melalui pemodelan matematika.

“Di dalam matematika ada cabang yang namanya matematika modeling yang didalamnya mengabstraksi permasalahan real menjadi permasalahan matematis,” jelas Prof. Asep.

Jawaban dari permasalahan matematis tersebut kemudian diinterpretasikan kembali kepada masalah awal untuk menjawab pertanyaan asalnya.

Diungkapkan Prof. Asep, berdasarkan literatur, mayoritas model penyebaran hoaks diinspirasi dari model epidemi.

Salah satu model yang bisa dianalogikan adalah model penyebaran virus. Model tersebut melihat bahwa masyarakat dikategorikan menjadi tiga bagian yang paling sederhana, yaitu yang sehat, terinfeksi, dan te-recover.

Prof. Asep pun menjelaskan sejumlah model yang dapat digunakan untuk menganalisis penyebaran hoaks.

Dari sejumlah studi yang ia lakukan, Prof. Asep mengatakan, ada peluang untuk mengembangkan model yang paling realistis, terutama di Indonesia. Salah satu hal yang dapat menjadi perhatian adalah terkait kredibilitas hoaks.

"Sekarang sudah banyak hoax detector yang melihat apakah berita ini hoaks atau bukan. Tapi belum ada yang bisa menentukan seberapa besar tingkat kredibilitasnya,” ujar Prof. Asep.