Meski Hanya Skrining, Akurasi Rapid Test Capai 80 Persen

dr. Reisa Broto Asmoro dalam Farah ZoomTalk/RMOL
dr. Reisa Broto Asmoro dalam Farah ZoomTalk/RMOL

Pengujian paparan Covid-19 sampai saat ini dilakukan dengan dua cara, yakni Rapid Test dan Polymerase Chain Reaction (PCR) Swab Test.


Rapid Test sendiri menggunakan sampel yang dapat diambil dari darah di ujung jari, darah dari pembuluh vena, maupun sampel dari swab.

Demikian disampaikan dr. Reisa Broto Asmoro dalam Farah ZoomTalk bertajuk "Jangan Pernah Menyerah! Strategi Hadapi Pandemi Covid-19. Cerdas YES, Cemas NO!", Jumat (9/10).

"Yang diperiksa apa? Antibodi, daya tahan tubuh kita," kata dr. Reisa Broto Asmoro, dikutip dari Kantor Berita Politik RMOL.

Reisa menerangkan, dalam hal tersebut Rapid Test hanya dapat digunakan untuk proses skrining. Mengingat antibodi adalah imunitas adaptif.

"Ada yang namanya periode infeksi, self-limiting disease. Pada Covid-19 periode infeksinya 14-21 hari," sambung dr. Reisa. 

Sehingga, jelasnya, jika Rapid Test dilakukan di awal-awal infeksi kerap kali tidak muncul. Namun jika hasilnya reaktif, maka setelah Rapid Test harus diiringi dengan isolasi mandiri.

"Harus nunggu dulu seminggu isolasi mandiri, dites lagi sampai harus non-reaktif," ujarnya.

Maka itu, Reisa juga menekankan, meski hanya digunakan untuk skrining, Rapid Test bukan berarti tidak akurat.

"Bukan berarti Rapid Test itu ga akurat. Bahkan ada yang akurasinya sampai 80 persen," tandasnya.