Naftali Bennett, Seorang Mayor Yang Menggulingkan Netanyahu Dari Kursi PM

Naftali Bennett (kiri) Benjamin Netanyahu (kanan)/Net
Naftali Bennett (kiri) Benjamin Netanyahu (kanan)/Net

Benjamin Netanyahu lengser dari kursi Perdana Menteri Israel setelah selama 12 tahun mendudukinya dengan berbagai intrik dan kontroversi.


Dikutip Aljazeera, Netanyahu digantikan oleh Naftali Bennett seorang tokoh partai sayap kanan Israel berusia 49 tahun. Bennett diangkat jadi Perdana Meneteri melalui sidang parlemen Israel Minggu (13/6) setelah koalisi yang ia himpun menang tipis 60 banding 59 suara atas koalisi yang dipimpin Netanyahu.

Bennett akan memimpin koalisi yang rapuh karena terdiri dari partai sayap kiri, tengah dan sayap kanan, serta sebuah partainya warga Palestina Israel yang mewakili 21 persen dari populasi negara itu. Sebuah koalisi yang terbentuk atas kepentingan sama, yakni menggulingkan Netanyahu.

Bennett hanya akan menjabat sebagai perdana menteri selama dua tahun sesuai dengan kesepakatan partai-partai dalam kolaisi yang ia pimpin. Setelah dua tahun Bennet akan diganti oleh pemimpin partai tengah, Yair Lapid.

Dikutip dari Wikipedia, Bennet adalah seorang anak dari pemukim asal Amerika Serikat yang lahir dan di besarkan di Israel. Dimasa mudanya Bennett masuk dinas militer Israel di kesatuan Sayeret Matakal, unit pasukan khusus anti teror dan ahli pengintaian.

Dari sumber-sumber lain, meski sudah berkarir di bidang politik, Bennet masih tercatat sebagai pasukan cadangan dengan pangkat Mayor.

Sebelum terjun di dunia politik Bennet adalah pengusaha sukses di bidang perangkat lunak. Salahsatu perusahaannya, Cyota, sukses diakuisisi perusahaan sekuritas Amerika Serikat dengan nilai 145 Juta Dolar AS. Perusahaan lainnya Soluto dibeli juga oleh perusahaan Amerika Serikat Asurion senilai 130 Juta Dolar AS.

Uniknya, karir politik Bennet justru jadi anak buah Netanyahu di partai Likud.Sebagai Kepala Staf dulu ia jadi kepercayaan Netanyahu.

Perbedaan agenda politik mendorong Bennet keluar dari Likud dan bergabung dengan partai The Jewish Home. Melalui partai ini ia berhasil membangun koalisi di Parlemen dan menumbangkan Netanyahu.

Analis politik senior Al Jazeera, Marwan Bishara, mengatakan Bennet sebenaranya tak jauh beda dari Netanyahu. Mereka sama-sama orang Ultranasionalis yang ingin melenyapkan eksistensi orang palestina.

Bennett unggul dari Netanyahu karena orang-orang Palestina di Israel sudah tak melihat ada niatan Netanyahu untuk membawa perdamaian anatara Israel dan Palestina.