Nasabah UMKM PNM Alami Peningkatan Meski Di Tengah Pandemi Covid-19

PT Permodalan Nasional Madani/RMOLJabar
PT Permodalan Nasional Madani/RMOLJabar

PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM terus mengalami peningkatan nasabah dari Pelaku Usaha Menengah, Kecil, dan Mikro (UMKM) walau di tengah pandemi Covid-19.


Di awal pandemi pada April 2020, PNM memiliki sekitar 6 juta nasabah. Kemudian bertambah menjadi 9,5 juta nasabah pada 2021, se-Indonesia.

Untuk di Jawa Barat sendiri, kini terdapat 1.980.000 nasabah PNM. Dari 625 kecamatan Di Jabar, PNM sudah hadir untuk membina masyarakat di 604 kecamatan di antaranya.

Utamanya, nasabah di Jabar berada di Bogor, Bandung, Garut, dan Tasikmalaya. Sebelum pandemi terdapat 1,4 juta nasabah, namun kini hampir 2 juta nasabah di Jabar.

Sekretaris Perusahaan PT PNM, Errinto Pardede mengatakan, PNM yang merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini memang memiliki tugas khusus dalam upaya pemberdayaan dan pengembangan UMKM di Indonesia. 

Ia menyebut, masyarakat pun dapat memperoleh pembiayaan usaha dari BUMN yang berdiri pada 1999 ini.

"Makanya tim PNM sekarang bertambah jadi 53 ribu orang. Sebelum pandemi baru sekitar 30 ribuan. Selama pandemi kita rekrut 12 ribu karyawan. Nasabah saat krisis April 2020, levelnya 6 juta, dalam satu tahun bertambah nasabah jadi 9,5 juta," ucap Pardede di Kota Bandung, Kamis (10/6).

PNM pun memperkenalkan inovasi layanan pinjaman modal untuk usaha mikro dan kecil dengan pembiayaan langsung bagi perorangan dan badan usaha melalui Unit Layanan Modal Mikro (PNM ULaMM). PNM ULaMM dilengkapi dengan pelatihan, jasa konsultasi, pendampingan, serta dukungan pengelolaan keuangan dan akses pasar bagi nasabah.

Seiring perkembangan usaha, PNM kemudian meluncurkan layanan pinjaman modal untuk perempuan prasejahtera pelaku usaha Ultra mikro melalui program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (PNM Mekaar). PNM Mekaar dikuatkan dengan aktivitas pendampingan usaha dan dilakukan secara berkelompok.

"Pada dasarnya nasabah PNM Mekaar memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam berusaha, namun terbatasnya akses pembiayaan modal kerja menyebabkan keterampilan berusaha mereka kurang termanfaatkan. Beberapa alasan keterbatasan akses tersebut meliputi kendala formalitas, skala usaha, dan ketiadaan agunan," katanya.

Oleh karena itu, PNM menerapkan sistem kelompok tanggung renteng yang diharapkan dapat menjembatani kesenjangan akses pembiayaan sehingga para nasabah mampu mengembangkan usaha dalam rangka menggapai cita-cita dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Manfaat yang disalurkan oleh PNM melalui layanan PNM Mekaar, meliputi peningkatan pengelolaan keuangan, pembiayaan modal tanpa agunan, penanaman budaya menabung, dan kompetensi kewirausahaan dan pengembangan bisnis.

"Jika ULaMM memberikan pembiayaan untuk UMKM antara Rp 20 juta hingga Rp 150 juta, dalam program Mekaar, ibu-ibu prasejahtera mendapat pembiayaan mulai dari Rp 2 juta. Kita lakukan pembinaan supaya lebih pintar dan maju," tuturnya.

Program Mekaar ini, kata Pardede, mengutamakan pemberian modal kepada kaum ibu dengan alasan kaum ibu ini lebih cermat dan keterampilan dalam mengelola keuangan dan bisnis.

"Mereka pun mendapat bimbingan dan pelatihan dari tim PNM dalam mengembangkan usahanya," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Divisi Pengembangan Bisnis Mekaar, Endang Nurjani mengatakan, masih banyak masyarakat terjebak oleh pinjaman rentenir sampai pinjaman online tak berizin. Padahal, tidak sedikit masyarakat yang membutuhkan pinjaman untuk keberlangsungan usahanya.

"Makanya kita di sini bukan hanya memberikan pembiayaan, tapi pendampingan kepada masyarakat. Bukan yang hanya sudah punya usaha yang bisa dapat pembiayaan, tapi yang gagal usaha karena pandemi, dan belum punya usaha," tandasnya.