Nasdem Deklarasikan Capres, PDI Perjuangan Meradang

Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net

SAMPAI saat ini belum ada partai yang secara resmi mendeklarasikan siapa calon presidennya, jika ada Ketua Umum Partai yang nekad mendekakarasikan Calon Presiden (Capres) hanya dianggap sebagai gimmick partai atau dagelan politik biasa.

Sekelas PDI Perjuangan yang merupakan partai pemenang pemilu dua kali dan sudah ada stok capres potensial saja masih minder untuk mendeklarasikan nama kandidat calon presidennya. PDI Perjuangan satu-satunya parpol yang bisa mencalonkan Capres-Cawapresnya sendirian, karena jumlah kursi DPRnya melebihi ambang batas pencalonan Presiden (President Threshold).

Salut kata yang tepat untuk keberanian dan manuver politik Ketua Umum  Nasdem Surya Paloh. Keputusan politik yang dilakukan Nasdem akan membuat ketat-ketir (cemas) dan membuat meradang PDI Perjuangan kemungkinan akan menjadi partai yang sensetif menaggapai deklarasi Partai Nasdem hari ini.

Perseturun politik bakal muncul sangat serius, persoalan serius adalah Nasdem masih berada di Koalisi Pemerintahan saat ini dan rupanya Capres yang dibidik Nasdem berbeda dengan Capres bidikan Jokowi dan PDI Perjuangan. Lobi dan komunikasi Nasdem dan PDI Perjuangan belum membuahkan hasil, justru  Nasdem sudah bergerak liar dengan mendeklariasikan nama capres yang akan menjadi rival terberat bagi PDI Perjuangan.

Nasdem dianggap partai yang lihai bermanuver cepat dan tanggap beradaptasi dengan lingkungan politik. Lobi-lobi politik yang telah dilakukan menambahkan kepercayaan diri bagi Nasdem untuk segera bersikap menghadapi kontestasi politik jelang tahun 2024. Partai Nasdem berani deklarasikan Capres, kapan PDI Perjuangan dan Partai Lainnya?

Tentunya masyarakat saat ini sedang menunggu kepastian dari elite partai agar segera mendeklarasikan dukungan ke salah satu nama Capres. Banyak capres yang lebih dahulu manggung dan ditambah peran lembaga survei serta memeriahkan bursa nama-nama kandidat Capres.

Kontestan yang cukup tersohor dan digadang-gadang sebagai kandidat calon presiden 2024 berasal dari berbagai kluster  yakni  kluster Kepala Daerah muncul nama Ganjar Pranowo ,Anies Bawesdan kluster Ketua Parpol Prabowo Subianti, Puan Maharani, Zulkifli Hasan dan kluster profesional seperti Sandiaga Uno dan Erick Thohir.

Media dan lembaga survei politik turut serta memberikan dorongan gambaran atau potret dari masing-masing Capres. Munculah parameter pencapresan yang menjadi gambaran nama capres yang disukai dan pantas diusung oleh parpol.

Hanya saja, nama-nama Capres yang sudah beredar di masyarakat akan menjadi tidak bermanfaat apabila belum dicalonkan oleh partai. Tegasnya, partai yang mempunyai hak mencalonkan dan merekomendasikan siapa yang bakal dipilih.

Sesuai UU Pemilu 17/2017, partai atau koalisi partai yang telah memenuhi syarat ambang batas presiden (President Threshold) sebesar20 persen perwakilan DPR di Parlemen.

Hari ini, Senin (03/09) menjadi tanggal keberuntungan untuk Anies Bawesdan. Jika melihat jadwal resmi acara sesuai undangan DPP Nasdem bernomer 161-UND/DPP-Nasdem/V/2022, Rencana Pukul 10.00 WIB Hari Senin 03 Oktober 2022  akan digelar  Deklarasi Capres 2024 pilihan Nasdem.

Jika Nasdem hanya tunggal mengeluarkan nama Capres, sudah bisa ditebak jika Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan akan menjadi pilihannya. Tapi jika Nasdem masih ambigu dalam pilihannya, minimal Anies akan masuk salah satu nama Capresnya.

Nasdem mempunyai kedekatan khusus  dengan Anies Bawesdan. Konon, Mantan Menteri Pendidikan ini termasuk juga pendiri Nasdem. Dukungan Nasdem ke Anies muncul di saat Rakernas Nasdem di Bulan Juni 2022 dimana nama Anies Bawesdan dimunculkan sebagai salah satu nama Capres hasil konvensi Nasdem.

Dukungan Nasdem untuk Anies Baswedan nampaknya masih samar, karena masih dimunculkan dua nama capres lainnya seperti Ganjar Pranowo dan Andika Perkasa. Dari hasil pertemuan dengan Ketua DPP PDI Perjuangan di Kantor Nasdem Tower baru-baru ini, Surya Paloh juga akan memberikan pintu untuk Puan Maharani sebagai capres Nasdem melalui konvensi Nasdem lanjutan.

Anies semakin diperhitungkan ketika hubungan politik berlanjut dengan bertemunya Anies dengan  para elite partai Nasdem, PKS dan Demokrat pada tanggal 18 September 2022, lalu. Dalam pertemuan tersebut hadir tokoh Nasional Jusuf Kalla mantan wakil presiden. Dalam pertemuan tersebut diduga juga ada pembicaraan berkaiatan Cawapres dan Isu Koalisi Partai.

Yang menarik dalam pertemuan tersebut adalah upaya perjodohan politik antara Anies Bawesdan dan Agus Harimurti Yudhoyono. Momen tesebut sebagai cikal bakal kekuatan politik bagi Nasdem untuk segera menggagas deklarasi Capres dan mengusung nama Anies Baswedan sebagai kandidat terkuat.

Ketum Nasdem Surya Paloh memilih menjadi King Maker. Hal ini pernah Surya Paloh lakukan dalam Pemilu 2019, Surya Paloh mendahului  PDI Perjuangan selaku parpol pemenang Pemilu 2014 dan Partai naungan Jokowi tetapi berani mengambil langkah besar menjadikan Jokowi sebagai Capres.

Pada saat itu, Nasdem sebagai gerbong utama  yang memberikat tiket Capres dan kembali menjagokan Jokowi maju di Pilpres 2019, lalu.

Nasdem menggelar Konvensi dan memutuskan Jokowi sebagai Calon tunggal sebagai capres. Kendati dalam Pilpres 2019, Jokowi diusung oleh partai lainnya tetapi Nasdem mempunyai banyak hak istimewa di jabatan politik dan sumber ekonomi yang didapat paska pemenangan Pilpres 2019.

Rupanya sudah menjadi harga mati untuk Nasdem menginginkan sebagai King Maker. Dengan posisi tersebut Sury Paloh leluasa mengendalikan Anies Bawesdan dan mengklaim Anies Baswedan adalah  milik Nasdem.

Tentunya keputusan ini akan segera dibayar mahal oleh Nasdem baik dari sisi beban politik dan juga beban biaya yang harus dibelanjakan untuk mengikatkan Anies Bawesdan menjadi Presiden 2024.

Geliat Nasdem hari ini akan segera mengubah konstelasi dan kontestasi politik nasional. Nasdem akan menjadi trigger bagi elite partai lainnya agar segera bermanuver.

Bagi Capres yang belum mendapatkan tiket dari Capres dari parpol, sudah saatnya untuk segera menjual diri atau berani mendeklarasikan dirinya sebagai calon presiden. Hal ini yang menjadi PR terberat calon yang bukan dari parpol seperti Ganjar Pranowo.

Bagi Ganjar Pranowo jika masih menunggu elektabilitas tembus di atas 40 persen atau menunggu keputusan Ketum PDIP siapa yang akan diusung capres. Tentu Ganjar akan banyak kehilangan momen politik, suara akan terus tergerus oleh Capres lainnya yang lebih dahulu mendeklarasikan diri dan Ganjar akan hilang posisi tawar politiknya di mata elit partai non PDI Perjuangan.

Gebrakan dan manuver Radikal dari Ganjar Pranowo sedang dinanti oleh jutaan masyarakat Indonesia, apakah akan menjadi pecundang atau menjadi negarawan yang siap menghadapi segala resiko politik.

Penulis Adalah Ketua Relawan Ganjar Pranowo 2024 (RGP2024) dan Ketua DPD PAN Kabupaten Cirebon