Pengakuan Agama Leluhur Dan Penghayat Kepercayaan Perlu Perjuangan Panjang

Ilustrasi agama leluhur/Net
Ilustrasi agama leluhur/Net

Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina kembali mengadakan diskusi publik bertajuk "Agama Leluhur dan Kebebasan/Berkeyakinan di Indonesia”. Tajuk tersebut sengaja diangkat agar menggugah kembali kesadaran akan akar budaya dan jati diri sebagai masyarakat Nusantara.


Hal itu disampaikan Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Tia Rahmania dalam keterangan resminya, Kamis (15/7).

"Agama lokal Nusantara telah ada sebelum diakuinya agama resmi yang kita kenal sekarang. Agama leluhur inilah yang membangun peradaban Nusantara yang kita banggakan. Namun kepercayaan lokal tersebut justru mengalami penindasan oleh adanya kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh negara," kata Tia.

Sementara itu, Peneliti Pusat Studi Agama dan Demokrasi Paramadina, Husni Mubarok mengatakan, orde baru melanjutkan warisan rezim sebelumnya yang membedakan agama dan keyakinan, yang tertuang dalam konstitusi.

"Agama leluhur diakui sampai kemudian GBHN menetapkan agama yang diakui, dan berarti bahwa ada agama yang tidak diakui," ujarnya.

Hal ini, lanjut Husni, menjadi dilematis, karena dengan mengosongkan di dalam identitas agama di KTP itu membuat situasi menjadi rumit. Menurutnya, stigma yang tidak ada agama atau yang bukan agama-agama dunia maka dia tidak mendapat ruang dan tempat di masyarakat, selain pelayanan administrasi.

"Zaman Reformasi, perjuangan agama leluhur tumbuh seiring perubahan rezim. UU Administrasi Kependudukan tahun 2006 memberi ruang pada kartu identitas, peraturan pernikahan dan peraturan pendidikan. Putusan MK 2017, di KTP boleh mencantumkan aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa," jelasnya.

Selain itu, politik pengakuan soal politik identitas, advokasi yang pertama meyakinkan sebanyak-banyaknya orang bahwa sebenarnya semua bisa hidup berdampingan, pendekatan inklusi sosial patut dipertimbangkan.

"Perjuangan pengakuan kelompok penghayat kepercayaan dan siapapun yang rentan dalam administrasi kependudukan itu, adalah perjuangan yang panjang. Namun jumlah yang memperjuangkan semakin banyak, melalui pemikiran pemahaman filsafat perenial, dan yang kedua kegiatan advokasi dilapangan," ucapnya.

Dosen program studi Islam Madani Universitas Paramadina, Aaan Rukmana menyatakan, agama leluhur perlu dilihat dari sisi filsafat perenial agar bisa menangkap sisi positif agama tersebut. Di mana semua agama sejatinya mengabarkan yang sakral dalam hidup.

"Itu alasan mengapa agama disebut tradisi yang mentransmisikan yang sakral melalui banyak jalan-jalan suci," katanya.

"Jika kita menggunakan filsafat perenial dalam mendekati persoalan agama leluhur akan banyak tersingkap tradisi-tradisi hidup dari agama-agama tersebut," pungkasnya.