Pengembangan Agroekosistem Di Indonesia Temui Banyak Kendala

Perkebunan teh Rancabali/Net
Perkebunan teh Rancabali/Net

Pengembangan agroekosistem atau eksositem pertanian di Indonesia dinilai memiliki banyak tantangan.


Mulai dari masifnya konversi lahan agroekosistem menjadi daerah permukiman, hotel, dan industri, kurangnya regenerasi petani, hingga penggunaan teknologi modern yang belum diaplikasikan dengan baik.

Guna mengatasi tantangan tersebut, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Fapet Unpad), Prof. Dedi Ruswandi berpendapat ada empat sasaran yang bisa dilakukan untuk mendukung agroekosistem dalam meningkatkan ketahanan pangan.

Sasaran tersebut, yakni mengembangkan keragaman agroekosistem, tanaman, sistem pertanian, dan perlindungan HAKI keragaman. Kemudian, memperkuat SDM pertanian dari hulu ke hilir yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga adaptif terhadap perubahan.

Prof. Dedi juga menekankan, penguatan agroekosistem perlu diperkuat dengan pemanfaatan teknologi modern mulai dari hulu hingga hilir, serta digitalisasi distribusi pemasaran terhadap produk pangan dan kuliner.

"Kita harus menjaga agroekosistem tradisional. Namun, kita juga harus meningkatkan agroekosistem modern untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional dan global,” kata Prof. Dedi seperti dilansir laman Unpad, Selasa 15/2).

Kendati demikian, Prof. Dedi juga tak memungkri adanya beberapa agroekosistem yang berhasil di Indonesia.

Di antaranya ada sistem pertanian Subak di Bali, perkebunan teh Rancabali di Kabupaten Bandung, hingga sistem padi rawa di Kalimantan dan padi gogo rancah di masyarakat Baduy.