Percepatan Vaksinasi di Jabar Alami Sejumlah Kendala

Ilustrasi vaksinasi/Net
Ilustrasi vaksinasi/Net

Antisipasi gelombang ketiga Covid-19 terus dilakukan Pemprov Jabar, salah satunya dengan melakukan percepatan dan pemerataan vaksinasi, baik dosis 1, dosis 2, hingga dosis 3.


Vaksinasi diberikan terhadap anak-anak usia 6 tahun, lansia, pelayan publik, kelompok rentan, hingga masyarakat umum di berbagai daerah di Jawa Barat.

Kendati demikian, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar, Nina Susana Dewi mengakui percepetan dan pemerataan vaksinasi tersebut juga mengalami sejumlah kendala.

"Kendalanya, sasaran dosis satu sudah mulai susah dicari, bahkan sudah dilakukan penyisiran sasaran seperti door to door, maupun vaksinasi keliling," ujar Nina, di Kota Bandung, Jumat (18/02).

Kendala lainnya yang juga dialami adalah ketersediaan jenis vaksin tertentu seperti Moderna belum bisa dipenuhi pusat. Sehingga pemenuhan permohonan kabupaten/kota pun terhambat.

Dikatakan Nina, kendala tersebut dapat menghambat bagi sasaran penerima dosis 1 yang mendapat Moderna. Sebab untuk dosis kedua harus menunggu suplai vaksin dari pusat.

Sementara untuk pemberian vaksin penguat atau dosis ketiga, pihaknya memberikan secara bertahap karena terkait dengan persyaratan harus sudah memiliki e-tiket. 

"Ada kecenderungan masyarakat memilih vaksin tertentu untuk penguat, padahal tidak semua vaksin stok tersedia," ucapnya.

Di samping itu, Pemprov Jabar juga mengeluarkan kebijakan terkait peningkatan kapasitas tempat tidur rumah sakit guna mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus Covid-19.

Aturan tersebut termuat dalam Surat Edaran Nomor: 23/KS.01/Dinkes tentang Penambahan Kapasitas Tempat Tidur Pasien COVID-29 di Rumah Sakit Kabupaten/Kota Se-Jawa Barat. 

Berdasarkan data Pikobar, per 16 Februari 2022, kasus terkonfirmasi di Jabar mencapai 887.131 dengan jumlah yang dalam perawatan 147.882, sembuh sebanyak 724.372, dan kasus meninggal 14.877. 

Adapun sebaran wilayah atau peta kasus Covid-19 tertinggi di Jabar berada di kawasan Depok, Bogor, Bekasi, dan Bandung Raya. 

Sementara persebaran kasus Covid-19 varian Omicron paling tinggi ada di Kota Depok dengan SGTF (Probable Omicron) sebanyak 166, dan WGS (Omicron) 55, disusul Kota Bandung SGTF sebanyak134,  dan WGS sebanyak 127.