Phobia Berlebihan Gus Nuril pada Khilafah, Kelompok Tidak Sepaham Dicap Anti Pancasila

Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net

TULISAN ini hanya untuk menetralisir pemahaman berkaitan dengan Khilafah. Tulisan dari Gus Nuril yang saya temukan hari ke-6 Lebaran Idul Fitri 1443 Hijriyah. Pesan berantai di group WA berjudul “Pesan Gus Nuril Untuk Orang Kaya Indonesia“ membuat saya terpacu menuliskan pemikiran saya untuk berusaha berfikir keras memahami inti sari pemikiran Gus Nuril akan phobia / ketakutan berlebihan bahaya Khilafah. Yang lebih menggelitik pikiran saya ,hubungan orang kaya Indonesia dengan Khalifah.

Pikiran Gus Nuril menurut saya ditujukan bagi mereka kelompok yang anti Pancasila dan akan menggantikan Pancasila dan UUD 45 sebagai dasar negara. Kelompok-kelompok tertentu saat ini sudah terindikasi anti Pancasila dan melawan NKRI. Gus Nuril sepertinya mengklaim dirinya yang paling NKRI dan Pancasila. Peringatan sangat keras diarahkan bagi kelompok orang kaya di Indonesia juga harus waspada pada kebangkitan khilafah. Dalam pikiran Gus Nuril mungkin Khalifah akan merampas kekayaan dan menyitanya sebagai harta negara atau tidak diberikan jaminan keamanan kekayaan dan bisnisnya.

Menurut Gus Nurul, isu Khilafah akan bergema semakin ramai menjelang pemilu 2024 dengan mewacanakan skema isu politik identitas. Tentu hal ini akan meresahkan dan membuat kegaduhan politik. Baik Capres dan Parpol tertentu kemungkinan akan menjadi tertuduh sebagai bagian kelompok penegakkan dan perjuangan Khalifah di Indonesia di musim pilpres dan pileg 2024.

Saya meyakini, tidak akan terjadi Khilafah akan menguasai Indonesia. Baik Khilafah sebagai bagian pemerintah/rejim atau sebagai hantu pemahaman yang sangat menakutkan. Saya termasuk orang yang tidak percaya 100 persen paham khilafah dan turunannya tidak cocok dengan orang Indonesia atau sejarah perkembangan Indonesia.

Sepertinya harus dibedakan dan dibedakan Khilafah dengan terorisme atau sosialisme, separatisme dan isme-isme lainnya yang diduga dipaksakan serta disejajarkan dengan isme khilafah.

Khilafah bisa diartikan juga rejim yang sedang memerintah atau sedang merebut kekuasaan.

Khalifah bisa diartikan sebagai paham/isme dan menjadi bagian menyatu menjadi ideologi negara. Dijadikan model bentuk negaara dalam pemerintahan .

Jika ditelusuri dari mana paham khilafah itu pertama kali ada jawabannya ketika munculnya konsep Tuhan dan titisan kedaulatan itu hadir di muka bumi. Khilafah adalah bentuk estafet kedaulatan dari Tuhan kepada hambanya yang dipilih di muka bumi. Kekuatan perintah Tuhan pada individu terpilih adalah absolute, mutlak untuk dilakukan dan dikerjakan dan bisa dilakukan dengan cara tangan besi/diktator.

Tuhan sebagai manifesto segalanya terhadap mandat yang diperintahkan untuk Raja atau Nabi sebagai hamba-Nya yang terpilih.

Kekuatan mandat Tuhan ,bahwa suara dan perintah Tuhan adalah manifestasi tindakan dan perintah raja atau nabi. Mandat tertinggi berbagi urusan hubungan agama, pemerintahan, negara dan lainnya ditangan raja. Payung hukum/yurisprodensi raja atau nabi adalah kitab kitab suci. Melalui kitab suci raja akan melakukan semua mandat Tuhan.

Pertanyaannya Apa yang menjadi landasan berfikir Phobia Gus Nuril berfikir tentang khilafah? Dari mana cara Khilafah akan menguasai Indonesia?

Sumber daya apa saja khilafah bisa diartikan sebagai ancaman suatu negara?

Jika khilafah diartikan organisasi atau kelompok, apa saja yang harus mereka siapkan untuk bisa merebut kekuasaan?

Perspektif Khilafah yang diartikan Gus Nuril itu imaginer dan tidak linear jika ditaruh dalam pemahaman sesungguhnya arti khilafah. Semakin tidak nyambung membahasnya khilafah dikaitkan dengan politik dan ekonomi di suatu negara terutama di Indonesian. Kontruksi berfikirnya abstrak dan tendensius jika khilafah itu bentuk nyata dan harus diperangi. Padahal pandangan khilafahnya Gus Nuril hanya di lihat dari permukaan fisik atas ketidaksukaan dan aneksasi pemahaman serta polarisasi kekuatan negara Barat.

Gus Nuril lupa jika negara barat sangat sekuler, menitikberatkan isu khilafah dalam perspektif kepentingan ekonomi dan politik, BUKAN bagian yang harus diperangi lagi karena beda paham sebagai kekuatan yang harus dibasmi.

Mengkonstruksi cara berfikir Gus Nuril jika Khilafah akan memberontak dengan kekuatan senjata seperti yang terjadi banyak terjadi di Timur–Tengah. Banyaknya peperangan dan konflik berkepanjangan bukan karena konflik utama yang didalangi oleh khilafah. Negara Timur Tengah sibuk berperang dalam penguasaan dominan disisi geopolitik dan tindakan geostrategis yang sangat bersinggungan dan berebut. Timur Tengah saat ini bukan lagi negara dengan posisining negara penghasil minyak dunia. Jika terjadi perang, ada agenda jauh lebih besar lagi yakni kapitalisasi ekonomi struktural oleh koalisi negara Barat dan Negara Timur Tengah sebagai proxynya.

Jadi, terjadinya konflik Timur Tengah saat ini lebih didominasi pergeseran kepentingan geopolitik. Habisnya sumber daya minyak bumi memaksakan setiap negaranya berfikir keras mencari sumber daya ekonomi baru. Salah satunya cara adalah memanfaatkan letak posisi geografis untuk mencari posisi tawar baik ekonomi dan politik. Kebijakan inilah yang disebut sebagai tindakan geostrategis. Munculnya dikawasan Timur tengah zona khusus ekonomi yang sudah membuang tradisi atau bahkan ajaran/paham khilafahnya sudah ditinggalkan. Saudi Arabia sangat ekspansif banyak melakukan pembenahan dinegerinya di sektor pariwisata, jasa dan pembangun infrastruktur untuk mencarikan investor luar negerinya. Disusul negara Arab lainnya seperti Oman, Kuwait dan lainnya mambangun gedung pencakar langit, kawasan gurun pasir dan tepi laut menjadi kawasan. Perdagangan dan pariwisata baru.

Perlu perenungan khusus bagi Gus Nuril atas kesimpulan yang kurang tepat atas ancaman Khilafah baik di Timur Tengah atau di negara lain seperti di Indonesia. Saat ini Khilafah yang terjadi berbentuk Neo Khilafah bukan khilafah sebagai kekuatan politik dan militer.

Ancaman Khilafah dan afiliasinya yang seperti Gus Nuril sebutkan seperti penguasaan gerombolan Khilafah Taliban di Afghanistan, atau penguasaan kelompok ISIS di Syuriah dan Irak atau pengaruh ISIS di negara di luar Timur Tengah, sudah meredup dan hanya hantu-hantu peradaban purba yang sudah Mati. Ingat, banyak negara saat ini yang disebutkan penganut khilafah justru melakukan kerja sama dengan pihak Barat seperti terjadi di Afghanistan yang pemerintahan dikuasai Taliban. Kerjasama ekonomi kawasan baru banyak melibatkan negara barat seperti Amerika dan China.

Khilafah di Indonesia bukan siapa-siapa. Tidak ada dalam kekuatan partai politik manapun. Tidak ada dalam wujud fisik apalagi dengan kekuatan militer. Khilafah di Indonesia tidak berbentuk apapun, tidak ada sayap pada militer atau masuk didalamnya terafiliasi gerakan separatisme. Khilafah yang ditafsirkan oleh Gua Nuril dari sisi kekuatan organik dan bersenjata hanya ada dalam pikirannya sendiri. Gus Nuril lupa, tidak bisa membedakan terorisme dengan gerakan separatisme bersenjata. Terorisme tidak harus disandingkan dengan isu khilafah.

Dipastikan jika ada isu khilafah atau terorisme lebih dipicu gerakan separatisme/pemisahan wilayah dari NKRI akibat ketidakpuasan kepada pengelolaan negara secara utuh. Contoh pemberontakan DI/TII, Permesta, Republik Maluku Selatan Aceh Merdeka/GAM, OPM adalah contoh separatisme bukan pemberontakan yang diarahkan menggantikan bentuk negara khilafah, mereka menuntut keadilan dan kesejahteraan dari pusat pemerintahan di Jakarta.

Saya termasuk orang yang tidak percaya 100 persen paham khilafah dan turunannya tidak cocok dengan orang Indonesia atau sejarah perkembangan Indonesia. Saya cinta NKRI memastikan khilafah sudah mati dan seandainya ada euforia khilafah muncul itu hanya sebagai propaganda politik praktis kelompok tertentu.

Sepertinyanya isu khilafah bisa menjadi objek perang intelejen saat ini. Pernah diskusi dengan mantan Jendral diinformasikan jika kondisi bangsa Indonesia saat ini sedang terjadi dan dilancarkan perang kontra intelejen. Keterlibatan pihak asing dan kelompok kepentingan di Indonesia sedang memainkan isu- isu kontra produktif. Dengan melemparkan isu-isu bias. Harusnya diangkat yakni pemulihan ekonomi paska pandemi Covid, kemerosotan daya beli masyarakat, kegagalan manajemen BUMN sehingga mengalami banyak kerugian dan hutang luar negeri yang semakin menumpuk.

Bisa jadi operasi intelejen saat ini justru didesain dengan penyebaran informasi horor. Menakuti-nakuti dengan isu ancaman radikalisme seperti isu gerakan radikalisme kelompok TII di Sumatra Barat bersenjata pacul yang mengarah perlawanan dengan Pemerintahan. Saat ini media dihebohkan munculnya ancaman sumber penyebaran penyakit baru seperti penyakit misterius Hepatitis yang tidak jelas informasinya menyebabkan rumor ini sebagai ketakutan baru untuk masyarakat.

Heru Subagja

Penulis adalah Ketua DPD PAN Kabupaten Cirebon dan Direktur Sepadanit Institute.