Polemik Diksi Limbah, BK DPRD Kuningan Panggil 5 Jurnalis Untuk Dimintai Keterangan

Lima orang jurnalis saat dimintai keterangan terkait pernyataan Ketua DPRD Nuzul Rachdy soal diksi limbah/RMOLJabar
Lima orang jurnalis saat dimintai keterangan terkait pernyataan Ketua DPRD Nuzul Rachdy soal diksi limbah/RMOLJabar

Setelah memanggih pentolan OKP hingga LSM, Badan Kehormatan (BK) DPRD Kabupaten Kuningan melakukan pemanggilan terhadap lima orang jurnalis untuk menjadi saksi dugaan kasus pelanggaran kode etik yang dilakukan Ketua DPRD Nuzul Rachdy terkait diksi 'limbah'.


Sebelumnya pada Senin (12/10) kemarin, BK DPRD Kuningan juga telah mengundang 16 elemen masyarakat yang menuntut dan melaporkan kasus tersebut.

Ketua Tim Pemeriksa BK DPRD Kuningan Purnama menerangkan, dari 16 elemen massa tersebut hanya ada 13 elemen yang hadir memenuhi undangan.

"Ya kemarin hadir 13 elemen, baik yang mengadukan secara lisan dan melalui surat, kita mintai keterangan," tutur Purnama, kepada Kantor Berita RMOLJabar, Selasa (13/10)

Pada hari ini, ungkap Purnama, hadir 5 orang jurnalis, di antaranya Deden Rijalul Umam (Kuningan Mass), Mumuh Muhyidin (Radar Kuningan), Nanang Subarnas (Kuningan Religi), Yani Suparni (Bingkai Warta) dan Ahmad Ripai (Tribun News).

"Kita meminta keterangan dari para jurnalis ini sebagai warga negara, bukan sebagai wartawannya. Terkait dugaan pelanggaran kode etik anggota DPRD yang dilaporkan dan diadukan berbagai komponen, soal diksi limbah yang sudah viral di media," kata Purnama.

Selanjutnya, Purnama menyampaikan, BK masih akan mengundang beberapa pihak lain untuk melengkapi keterangan. Di antaranya, dari Pondok Pesantren Husnul Khotimah dan pihak teradu, Nuzul Rachdi.

Ditargetkan pada hari Jumat (16/10) lusa, BK bisa menuntaskan pengumpulan keterangan dari berbagai pihak tersebut.

Sementara itu, salah seorang jurnalis, Deden Rijalul Umam usai memberikan keterangan mengungkapkan, ada 10 pertanyaan dari Ketua TIM Pemeriksa BK DPRD Kuningan yang harus dirinya jawab.

"Ada 10 pertanyaan, Alhamdulillah seputar kejadian pas kita mewawancara Ketua DPRD Kuningan pada Rabu (30/09) lalu. Saat terlontar diksi limbah yang viral itu," kata Deden. 

Deden menerangkan, proses pengumpulan keterangan dari lima orang jurnalis tersebut, dilakukan sekitar tiga jam. 

"Hanya diminta keterangan agar BK bisa melengkapi berkas dalam menuntaskan tuntutan kasus dugaan pelanggaran kode etik," terangnya.

Disinggung isi pertanyaan yang ditanyakan. Deden enggan menyebutkan karena hal tersebut akan jadi bahan BK untuk melanjutkan ke proses persidangan.