Polemik Diksi Limbah, Ketua DPRD Kuningan Diminta Minta Maaf Selama Lima Hari Melalui Media Massa

Pertemuan jajaran DPRD Kuningan bersama pihak Ponpes Husnul Khotimah/Ist
Pertemuan jajaran DPRD Kuningan bersama pihak Ponpes Husnul Khotimah/Ist

Permohonan maaf disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Kuningan, Nuzul Rachdy terhadap Pondok Pesantren Husnul Khotimah atas pernyataannya yang menyebut diksi limbah karena adanya sejumlah santri terkonfirmasi positif Covid-19.


Secara langsung, permohonan maaf disampaikan Nuzul Rachdy dengan mendatangi Ponpes tersebut, Ia didampingi Bupati Kuningan Acep Purnama, Kapolres Kuningan AKBP Lukman SD Malik dan Ketua MUI, Dodo Syarif Hidayatullah.

Kedatangan mereka diterima langsung Anggota Dewan Pembina Husnul Khotimah, Achiddin Noor, Ketua Umum Yayasan Husnul Khotimah, Mu'tamad, Juru Bicara Husnul Khotimah Sanwani, dan jajaran pengajar Ponpes Husnul Khotimah lainnya.

"Saya memohon maaf atas pernyataannya yang kemudian sangat di luar dugaan. Dengan segala kerendahan hati sebagai manusia biasa, saya memohon maaf dan mencabut pernyataan saya," kata Nuzul dalam keterangan yang diterima Kantor Berita RMOLJabar, Rabu (14/10). 

Menanggapi permohonan maaf tersebut, juru bicara Ponpes Husnul Khotimah, Sanwani mengatakan, dalam pertemuan yang dilakukan Selasa (13/10) malam tersebut belum terjadi saling memaafkan.

Menurutnya, Ponpes Husnul Khotimah memberikan persyaratan kepada Nuzul Rachdy. Nuzul harus menyampaikan permohonan maaf secara terbuka di media massa selama lima hari berturut-turut.

"Kami menuntut Nuzul Rachdy untuk mencabut pernyataan tersebut dan menyampaikan permintaan maaf yang dimuat di media lokal dan nasional selama lima hari berturut-turut," tegas Sanwani.

Sanwani menjelaskan, syarat itu diberikan untuk melihat keseriusan Nuzul Rachdy memohon maaf atas ucapannya yang tidak hanya menyinggung pihak Pondok Pesantren Husnul Khotimah.

"Sebagai bentuk keseriusan atas pernyataannya karena yang tersinggung atas ucapan beliau bukan hanya Husnul Khotimah, para wali santri, alumni dan solidaritas pondok pesantren di Indonesia juga terusik dengan pernyataan itu," pungkas Sanwani. 

Sekadar diketahui, Ketua DPRD Kuningan Nuzul Rachdy membuat heboh dengan pernyataannya yang menyebut diksi 'Limbah'. Akibat pernyataannya itu, Nuzul mendapat kecaman dari berbagai pihak termasuk didesak mundur dari jabatannya.

Selain itu, BK DPRD Kuningan dalam proses pengumpulan keterangan dari berbagai pihak. Baik dari kalangan OKP, Ormas, LSM, Jurnalis, serta pihak Pondok Pesantren HK, dan Ketua DPRD, Nuzul Rachdy.