Refleksi 77 Tahun GPII: Menuju Rumah Besar Pemuda Islam

Ketua Umum PW GPII Jawa Barat Irwan Sholeh Amir/Istimewa
Ketua Umum PW GPII Jawa Barat Irwan Sholeh Amir/Istimewa

PADA tanggal 02 Oktober 2022, Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) tepat berusia 77 Tahun. Umur organisasi GPII ini seumur dengan berdirinya negara Indonesia, lahir dua bulan setelah Indonesia merdeka, masih di tahun yang sama, yaitu tahun 1945. 

GPII didirikan di Jakarta pada 02 Oktober 1945 oleh para mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI), kemudian setelah berkiprah selama 18 tahun, GPII dipaksa bubar oleh rezim Orde Lama pada tahun 1963 melalui Keputusan Presiden (Kepres) No.139. 

Ada fakta sejarah yang harus diungkap dan diluruskan. Meski demikian, GPII eksis hingga hari ini dan diakui pemerintah. Namun GPII harus segera memperkuat eksistensinya dengan legalitas yang jelas.

GPII sempat berganti nama menjadi GPI, hanya menghilangkan kata Indonesia. Tapi dalam perjalanannya justru organisasi ini menjadi dua, GPI dan GPII. Setelah puluhan tahun dua organisasi ini eksis, sempat terjalin komunikasi yang cukup intens, lalu muncul kesepakatan untuk menggabungkan dua organisasi ini menjadi satu, yaitu kembali ke khittah tahun 1945 sebagai GPII. Akhirnya di tahun 2013 sepakat untuk melaksanakan Kongres/Muktamar Bersama di Medan, dua organisasi ini bersatu dalam nama GPII.

Narasi Perjuangan Pemuda Islam

Perjuangan Pemuda Islam di Indonesia tak bisa lepas dari peranan Jong Islamieten Bond (JIB). Organisasi pemuda Islam yang lahir jauh sebelum Indonesia merdeka, juga ikut dalam peristiwa bersejarah pembacaan Sumpah Pemuda. 

Organisasi yang lahir dari kegelisahan generasi muda Islam di tengah maraknya nasionalisme sekuler dan primordialisme kedaerahan.

Sebagaimana semangat Sumpah Pemuda, yaitu mempersatukan pemuda Indonesia. Maka hadirnya Jong Islamieten Bond memiliki semangat mempersatukan pemuda Islam di Indonesia.

Berawal dari wacana aktivis Jong Java bernama Raden Syamsurizal, yang juga ketua Jong Java saat itu, Syamsurizal berpendapat bahwa untuk memahami ruh bangsa ini mesti juga memahami Islam, maka kader Jong Java perlu pendidikan agama Islam. Wacana ini dibawa Syamsurizal ke Kongres Jong Java, namun banyak yang menolak karena banyak yang beranggapan Jong Java bukan organisasi keagamaan. 

Akhirnya ide wacana pendidikan Islam bagi kader Jong Java ini membesar menjadi rencana membentuk organisasi khusus pemuda Islam. Setelah Syamsurizal berkonsultasi dengan H. Agus Salim, maka yakinlah untuk membentuk JIB, lalu mengumpulkan sekitar 200 orang pemuda dan pelajar yang bersedia bergabung, dan dideklarasikan pada 1 Januari 1925 di Jakarta.

JIB dengan Islam sebagai landasan perjuangannya, menjadi pembeda dengan organisasi  lainnya. Dengan keislaman yang kuat, namun tak menghilangkan nilai-nilai nasionalisme sebagai pemuda Indonesia. Terbukti pada Kongres II Pemuda tahun 1928 ikut membidani lahirnya Sumpah Pemuda.

JIB berkembang di Indonesia hingga ke daerah-daerah, beberapa kadernya menjadi tokoh nasional. Bahkan presiden pertama Soekarno dikenal sebagai kader JIB Cabang Bandung yang sempat dicalonkan menjadi ketua besar dalam Kongres JIB di Surakarta, walaupun kalah oleh Wiwoho Purbohadidjojo. 

JIB dianggap sebagai organisasi pemuda Islam pertama dan tertua, selain fokus pada pembinaan pemuda Islam dan kepanduan, JIB berhasil membuat sekolah dan badan usaha.

Meskipun sudah cukup berhasil sebagai organisasi, namun JIB ini salah satu organisasi yang dibubarkan pada masa penjajahan Jepang tahun 1942. Karena organisasi-organisasi yang eksis pada masa penjajahan Belanda tidak diizinkan keberadaannya. Maka setelah merdeka pada tahun 1945, lahir organisasi pemuda Islam bernama Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII).

GPII dianggap sebagai pelanjut dari JIB, namun GPII lebih fokus pada gerakan politik pemuda, atau lebih tepatnya wahana pendidikan politik pemuda. Pada perkembangannya banyak kadernya yang berkiprah di politik praktis dalam partai Masyumi. Ada semangat yang sama antara JIB dan GPII, yaitu mempersatukan pemuda Islam dalam satu organisasi, bahkan sempat disebut satu-satunya organisasi pemuda Islam pada waktu itu.

Narasi panjang perjuangan pemuda Islam ini, harus menjadi api semangat GPII untuk menjadi organisasi pemersatu, yang mempersatukan pemuda Islam dengan berbagai latar belakang yang beragam, sesuai dengan keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia. 

Tantangan Bonus Demografi

Pemuda ialah individu yang sedang berkembang, baik secara fisik atau psikis. Secara fisik tubuhnya semakin kuat, secara psikis kepribadiannya semakin matang. Pemuda merupakan masa usia produktif dengan energi besar, sumber daya manusia yang bisa melakukan perubahan dengan kekuatan yang dahsyat. 

Kekuatan yang paling besar ialah pemikirannya. Pikirannya didukung dengan imajinasi yang tinggi, kreatif dan inovatif, sehingga bisa melakukan lompatan-lompatan berpikir melebihi zamannya. Maka harapan perubahan itu selalu disandang oleh pemuda, namun perubahan itu hanya bisa dilakukan oleh pemuda yang berani dan berkemauan kuat. If there is a will, there is a way.

Wajar bila Soekarno berujar: “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Pidato Soekarno ini bukti bahwa beliau meyakini kekuatan pemuda yang luar biasa.

Para pemuda juga ikut mengantarkan Indonesia merdeka, melalui gerakan-gerakan pemuda yang terorganisir menyuarakan kemerdekaan dan persatuan. 

Suara pemuda Indonesia akhirnya terlembaga dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 hasil rumusan Kongres Pemuda II yang diinisiasi oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), yang juga dihadiri dan dikuatkan oleh organisasi-organisasi kepemudaan seperti Jong Java, Jong Islamieten Bond, Jong Sumatranen Bond, Jong Batak Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Pemoeda Kaoem Betawi, dan yang lainnya.

Banyak prediksi menyebutkan bahwa pada tahun 2045 Indonesia akan memiliki sumber daya pemuda yang melimpah, diperkirakan usia produktif (15-60 tahun) akan mendominasi sebanyak 70% dari populasi yang ada. 

Bagi GPII hal ini bisa menjadi tantangan berat atau justru peluang emas untuk merekrut usia produktif ini. Karena zaman terus berubah, pendekatan organisasi juga harus berubah seiring tuntutan zamannya. Jika GPII tidak mampu menangkap semangat zaman, maka GPII akan sulit untuk besar dan berkembang. GPII akan ditinggalkan dan hanya menjadi sejarah.

Menuju Rumah Besar Pemuda Islam

GPII harus mencoba menangkap api semangat JIB, yaitu mempersatukan pemuda Islam di Indonesia, menjadikan GPII sebagai rumah besar pemuda Islam. 

Mimpi ini dimulai dengan langkah kecil mengundang kader-kader terbaik lintas daerah bahkan lintas ormas dan lembaga untuk bergabung dalam GPII. 

Organisasi GPII bisa merekrut kader-kader muda Islam dari berbagai latar belakang, misalnya dari Pelajar Islam Indonesia (PII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyyah (IMM), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa-Mahasiswi Persatuan Islam (Hima-Himi Persis), kader muda Syarikat Islam (SI), kader muda Mathla’ul Anwar (MA), dan yang lainnya. Berharap GPII bisa menjadi representasi kader umat menuju rumah besar pemuda Islam.

Selain itu, GPII harus memperkuat dirinya sebagai gerakan intelektual muda Islam, karena secara historis, organisassi ini didirikan oleh para mahasiswa Islam, kaum intelektual. GPII mesti membudayakan tradisi literasi, diskusi dan aksi. 

Dengan gerakan literasi bisa memperkaya referensi kader membangun intelektualitas. Diskusi merupakan proses dialektika dalam mencari solusi. Sedangkan aksi merupakan bentuk sikap dan refleksi dari sebuah kesadaran untuk memperjuangkan sesuatu. Pencapaian yang tidak mudah, namun bukan hal yang mustahil untuk dilakukan GPII menjelang 77 tahun usianya.  

Penulis adalah Ketua Umum PW GPII Jawa Barat