Resmi Digelar, ICBPS 2020 Mampu Kolaborasikan Akademisi Dan Dunia Industri

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi ( LLDIKTI) Wilayah IV (Jawa Barat dan Banten) Prof. Dr. Uman Suherman/RMOLJabar
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi ( LLDIKTI) Wilayah IV (Jawa Barat dan Banten) Prof. Dr. Uman Suherman/RMOLJabar

International Conference on Business Policy and Sciences (ICBPS) 2020 ketiga resmi digelar Universitas Widyatama (UTama) Bandung. Konferensi mengenai penulisan paper para dosen tersebut berlangsung secara daring, pada 14-15 Oktober mendatang.


Ada 18 perguruan tinggi dari enam negara di dunia yang turut berpartisipasi. Saat ini, UTama telah menerima 122 paper yang merupakan kolaborasi para dosen UTama, perguruan tinggi di Tanah Air serta dosen perguruan tinggi dari mancanegara yang telah melakukan kerja sama.

Adapun 18 perguruan tinggi tersebut antara lain, Oxford University (Inggris), Harvard University (Amerika Serikat), IUMW, UiTM, dan UPN (Malaysia), University De La Salle Lipa (Philippine), Korea University (Korea Selatan), University of Tokyo (Jepang), ITB, UPI, Mercu Buana, Sangga Buana, Tronojoyo Madura, Unpad, Unpas, UGM, Telkom, dan Brawijaya Malang (Indonesia).

Dalam sambutannya, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV (Jawa Barat dan Banten) Prof. Dr. Uman Suherman mengaku mengapresiasi kegiatan tersebut. Sebab berbicara dunia internasional tidak hanya berkaitan dengan reputasi, melainkan juga harga diri sebuah bangsa.

"Sebetulnya pada saat kita berbicara dunia internasional tidak hanya menyangkut tentang jurnal terindeks scopus. Tetapi menyangkut harga diri bahwa orang Indonesia itu sejajar dengan bangsa yang lain, intinya seperti itu," ujar Prof. Uman, Rabu (14/10).

Prof. Uman menjelaskan, kaum akademisi adalah ilmuwan yang tidak boleh tinggal diam saat melihat apa yang terjadi di lingkungannya. Untuk itu, sambungnya, terdapat istilah bagaimana kampus mampu mendekatkan kepada dunia industri.

"Artinya bukan berarti kampus dibikin pabrik, tetapi apa-apa yang harus dilakukan oleh dunia industri itu cara pikir dan pola pikirnya dihasilkan akademisi-akademisi melalui penelitian-penelitian yang ada," terangnya.

Lebih lanjut Prof. Uman memaparkan, penelitian atau kajian-kajian tersebut memunculkan sebuah kebijakan yang bisa menjadi regulasi bagi ekonom-ekonom di Tanah Air. Sehingga, Ia menilai, kegiatan bisnis tidak bisa berjalan tanpa ilmu pun tanpa adanya praktik.

"Karena itu mendekatkan dunia industri dengan dunia akademis menjadi sebuah keharusan," ujarnya.

Sementara itu, Rektor UTama Bandung, Prof. Obsatar Sinaga mengungkapkan, konferensi internasional  tersebut merupakan upaya pihaknya dalam mengkolaborasikan antara industri dengan sains. Terlebih, saat ini dunia tengah berlomba menuju era industri 5.0.

"Jadi, kita menghadirkan paper-paper. Di sana isinya membahas tentang industri, tetapi menghadirkan juga para praktisi sekaligus membuat riset yang arahnya kepada kolaborasi," ungkap Prof. Obi sapaan Obsatar Sinaga.

Prof. Obi mengatakan, kegiatan yang dilakukan satu tahun sekali tersebut sangat membantu para dosen yang ingin menaikan pangkat termasuk untuk tugas akhir mahasiswa. Untuk itu, ke depan pihaknya berencana menggelar konferensi internasional selama 6 bulan sekali.

"Ini sangat membantu dosen yang akan melakukan kenaikan pangkat dan mahasiswa program doktoral atau magister yang sedang menempuh ujian akhir, mereka harus punya jurnal internasional. Nah di sini tempatnya mereka mempresentasikan," bebernya.