Sanitasi Penduduk Indonesia Masih Buruk, Desa Mekarmanik Jabar Jadi Sorotan

Virtual Zoom bersama Wakaf Salman ITB/Ist
Virtual Zoom bersama Wakaf Salman ITB/Ist

Kondisi sanitasi penduduk Indonesia dinilai masih memprihatinkan. Hal itu dapat dilihat dari masih minimnya fasilitas pemasok air bersih maupun fasilitas Mandi, Cuci, dan Kakus.


Pengurus Odesa Indonesia, Enton Supriyatna mengatakan, setidaknya ada 32 juta masyarakat Indonesia yang memiliki fasilitas sanitasi yang buruk. Mereka, salah satunya masih melakukan perilaku buang air besar sembarangan.

"Dari data Kemenkes 2020 dari sekitar 287 juta penduduk, ternyata masih ada lebih dari 32 juta yang buang air besar sembarangan," kata Enton saat mengikuti acara Virtual Zoom bersama Wakaf Salman ITB, Sabtu (20/2) kemarin.

"Jadi mereka masih menggunakan jamban yang tidak layak, seadanya, atau mereka malah BAB itu di tempat terbuka‎," imbuhnya.‎

Di Jawa Barat, lanjut Enton, setidaknya hampir 10 juta penduduknya masih melakukan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS).

"Dari sekitar 55 Juta Penduduk di Jabar itu masih ada lebih dari 9 Juta warganya BABS," lanjutnya.

Enton mengungkapkan, kondisi tersebut dinilai dapat berdampak buruk jika tidak segera diatasi. Pasalnya, hal tersebut dapat mengancam kesehatan khususnya pada anak-anak.

"Kita tahu, kualitas sanitasi yang buruk sangat berpengaruh terhadap kondisi gizi anak-anak terutama, lalu memunculkan berbagai penyakit yang bisa menyerang warga setempat," ungkapnya.

Wash specialist Unicef, Muhammad Zainal membenarkan terkait adanya perilaku BABS di Indonesia. Bahkan, dari jumlah total perilaku BABS, sebagiannya terjadi di pulau Jawa.

"Kalau menurut data BPS itu kan ada 20 juta lebih penduduk yang melakukan BABS, dan ironisnya 50 persennya itu tinggal di Jawa," katanya.

Zainal mengungkapkan, pengelolaan limbah kotoran manusia Indonesia yang terolah dengan baik masih sangat minim. Menurutnya, lebih dari 90 persen limbah kotoran penduduk Indonesia mencemari tanah dan sumber mata air.‎

"Kondisi ini diperparah juga karena di Indonesia itu baru 7,4 persen lumpur tinja atau kotoran kita itu diolah dengan benar, artinya 92 persenan mengkontaminasi tanah," ungkapnya.

Dari data penelitiannya di Yogyakarta menunjukkan bahwa hampir 90 persen air tanah tercemar bakteri.

"Jadi tidak heran dari hasil studi yang dibuat Unicef bersama BPS di Yogyakarta itu 89 persen sumber air tanah itu terkontaminasi bakteri ecoli," tambahnya.

Wakaf Salman ITB, melalui program 1000 Desa berupaya untuk membantu fasilitas-fasilitas Sanitasi di berbagai Wilayah. Salah satu wilayah yang menjadi sorotan terkait fasilitas sanitasi yang buruk adalah Desa Mekar Manik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. 

Melalui Virtual Tour yang dipandu oleh Aktor Ricky Perdana, diperlihatkan bagaimana terbatas dan kurang layaknya sanitasi di Desa tersebut. 

"Jadi emak mandi dan buang air di situ (di ruang terbuka), seperti yang disampaikan emak Ratna ini air yang didapat pemberian dari orang lain selama 85 tahun," ucap Ricky.‎

"Lebih dari 1500 keluarga di Cimenyan masih melakukan perilaku BABS," kata Enton Supriayatna dari Odesa Indonesia.

Anggota Wash Specialist Unicef, Muhammad Zainal mengatakan apa yang terjadi di Desa Mekar Manik merupakan salah satu contoh buruknya sanitasi di Indonesia. Menurutnya, semua pihak harus mengambil andil untuk menyelesaikan hal tersebut. 

"Jadi perilaku BASB ini harus menjadi perhatian semua pihak untuk menghentikan perilaku seperti itu," tandanya.‎