Sejumlah Pengurus Pesantren Dan Madrasah Di Garut Mengeluh, Bantuan Kemenag Dipotong

Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net

Sejumlah pengurus pesantren dan Madrasah Diniyyah (Madin) di Kabupaten Garut mengeluhkan adanya potongan bantuan dari Kementerian Agama.


“Potongan tersebut bervariatif, mulai 15 hingga 70 persen dari total nominal bantuan yang diberikan,”kata salah seorang pengurus pesantren di Garut, Aziz (30), kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (24/9).

Aziz sendiri mengaku bahwa bantuan yang diterimanya dipotong 20 persen dari total bantuan sebesar Rp 40 juta. Potongan tersebut, menurut Aziz lebih kecil dibanding potongan bantuan yang diterima oleh sejumlah pesantren lainnya di Garut.

“Dari cerita sesama pengurus pesantren, jumlah potongan bantuan tersebut ada yang sampai 70 persen dari total bantuan yang diterima,” sebut Aziz.

Menurut Aziz bantuan dari Kemenag bermacam-macam, ada BOP daring, Madrasah Diniyyah, Taman Pendidikan Alquran, pesantren kecil, dan sedang.

“Bantuannya itu dari Rp 10 juta, Rp 15 juta, Rp 25 juta, sampai Rp 40 juta. Tergantung bantuannya BOP apa,” ujarnya.

Selain Aziz, pengurus pesantren lainnya, Yasin (37) mengaku bahwa bantuan yang diterimanya pun ikut dipotong.

“Potongannya 50 persen. Kita dapat bantuan BOP Madrasah Diniyah yang besarnya Rp 10 juta,” ucapnya.

Ia mengaku bahwa bantuan tersebut sebetulnya dicairkan langsung oleh pesantren, melalui Kepala dan Bendahara pesantren ke bank yang ditunjuk.

Namun setelah dicairkan, bantuan tersebut setengahnya langsung diberikan kepada seseorang yang mengaku koordinator partai politik tertentu.

“Alasannya karena katanya mereka yang mengusungnya. Padahal kan prosesnya tidak seperti itu. Saat kami tidak memberi, mereka memberikan ancaman. Diancam gitu, karena kami kurang paham jadinya ya diberikan saja,” akunya.

Yasin menyebut bahwa selain dirinya, tidak sedikit juga Madrasah Diniyah yang dipotong dengan besaran yang sama.

“Sampai gini, ada yang tidak mengajukan tapi dapat bantuan namun dicairkan oleh orang lain. Ada juga yang datang ke bank sambil membawa SK untuk mencairkan, tapi ternyata sudah ada yang mencairkan duluan. Aneh tapi nyata,” sebutnya.

Kosim (42), pengurus pesantren anak yatim mengaku bahwa pihaknya mendapat bantuan sebesar Rp 25 juta. Dari jumlah tersebut kemudian dipotong 50 persen.

“Ini kita tidak tahu dapat bantuan, tiba-tiba sudah dicairkan dan diberikan saja yang 50 persennya ke kita,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun, bantuan Kementerian Agama untuk pesantren di Kabupaten Garut sekitar 657 paket.

Jumlah tersebut terdiri dari BOP daring 268 paket, MDT 77 paket, TPQ 10 paket, PP kecil 295 paket , dan PP sedang 7paket. Kalau ditotalkan, jumlah bantuannya mencapai Rp12.545.000.000.