Tak Setinggi Tahun Lalu, Dinkes Kota Bandung Catat 2.557 Kasus DBD

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bandung Rosye Arodiana/RMOLJabar
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bandung Rosye Arodiana/RMOLJabar

Dinas Kesehatan Kota Bandung mencatat 2.557 kasus Demam Berdarah Denggi Dengue (DBD) hingga Bulan September 2020. Jumlah itu diprediksi akan terus meningkat hingga akhir tahun ini.


Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bandung, Rosye Arodiana mengatakan bahwa jumlah tersebut dinilai masih rendah jika dibandingkan jumlah kasus di tahun lalu. Meski begitu, Rosye menegaskan bahwa jumlah kasus tersebut terbilang cukup tinggi.

"Kalau tahun lalu itu kan memang luar biasa jumlahnya, tapi dengan 2.557 itu sudah cukup tinggi," kata Rosye di Balai Kota Bandung, Rabu (18/11).

Rosye mengatakan bahwa dari 2.557 kasus, terdapat 12 orang yang meninggal dunia. Menurutnya, angka kasus DBD tersebut akan terus terjadi peningkatan.

"Itu kan data sampai September, nanti sampai akhir tahun pasti bertambah jumlahnya," katanya. 

Rosye menuturkan, Dinkes Kota Bandung terus melakukan upaya-upaya pencegahan untuk menekan angka kasus DBD. Menurutnya, Dinkes Kota Bandung terus melakukan sosialiasi dan edukasi dalam pencegahan DBD kepada masyarakat.‎

"Kita sosialisasi terus, sampe bosan kali ya. Yang terutama itu tetap, mereka (masyarakat) melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan 3M, lalu Gerakan Satu Rumah Satu Satu Jumantik," tuturnya.

Rosye menjelaskan, pihaknya merasa prihatin dengan adanya kasus kematian akibat DBD. Menurutnya, dengan status Kota Metropolitan seharusnya hal itu tidak terjadi mengingat tersedianya fasilitas yang memadai.

"Padahal di Kota Bandung ya, fasilitasnya banyak kenapa sampai meninggal. Jadi kita upayakan untuk mereka sedini mungkin untuk mengenal DBD," jelasnya.

Rosye menegaskan bahwa, masyarakat dapat menggunakan fasilitas deteksi DBD yang tersedia di setiap pukesmas. Sehingga, lanjut Rosye, dengan fasilitas tersebut, penanganan bisa dapat dilakukan dengan lebih dini.

"Di Puskesmas itu sudah ada pemeriksaan NS1. NS1 itu kaya rapidnya DBD. Jadi yang ada gejala seperti Demam, tidak harus nunggu hari ke 3, cek darah, trombositnya turun dan lain-lain. Jadi dengan NS1 kita bisa tahu lebih cepat," tegasnya.‎